Naomi Menangis, Papa Menghunus Pisau

Naomi Sitanggang ketika sedang memeluk
Abangnya Jeremia Sitanggang/ dok: Marco
Samosir - Bagiku kehidupan ini bukanlah sebuah keadaan yang mengasyikkan. Kehidupan ibarat perenang yang melaju untuk mencapai garis pantai. Kehidupan merupaka sebuah perjuangan panjang.

Perjuangan itu juga harus dialami sampai akhir hayat menjemput. Berbagai kisah, pengalaman hidup akan menghampiri kita. Baik pengalaman pahit hingga pengalaman manis. 

Hari ini minggu (26/4) pagi, pengalaman pahit menghampiriku. Sebuah kejadian yang pasti akan saya ingat terus sampai umur menutup mata. 

Pagi itu, sang putri ku terus menangis dan meringis bak kesurupan. Hanya karena aku mau mengganti pakaiannya yang basah akibat ngompol, Naomi nama anak perempuanku itu mengamuk bagai banteng melihat kain merah.

Aku dan ibunya pun bingung bukan main. "Ada apa ini" gumanku dalam hati. Hampir sekitar 1 jam si Tomboy tanah lapang itu meringis dan menangis. Berbagai cara kami lakukan untuk mendiamkan dan membujuknya, namun semua usaha itu sepertinya sia-sia.

Hingga akhirnya, sekira pukul 02.00 Wib dini hari, dalam keadaan menangis Naomi, kami ajak menonton dvd. Sembari tangan ini mulai menekan tombol power, Naomi kemudian ikut-ikutan memasang kaset kedalam ruang dvd itu. Puji Tuhan, Naomi terlelap akan kesibukannya mengotak-atik dvdnya, sehingga dirinua terlupa akan daya amuknya.

Senang rasanya putri kecil kami diam tidak menangis lagi. Namun ternyata disini pula letak persoalan tersebut. Aneh perasaanku saat itu, barangkali akibat bawaan ngantuk, akh mulai geram dan emosi. Bukan pada Naomi, justru aku geram kepada mamanya. 

Ada rasa egois yang meliputiku, aliran darah semakin kencang, seolah ingin melumat dunia pada saat itu. "Kenapa mendiamkan si Naomi pun kau tak bisa. Kenapa setiap malam harus aku yang memantau dan menjaga anak-anak, kapan lagi aku istirahat" bentakku padanya.

Naomi saat itu tiba-tiba bingung dan terdiam seribu bahasa, seolah tahu bahwa papanua sedang murka. Wajah memelas naomi kemudian menatap ibunya, seolah kasihan. Aku pun bingung, 2 wanita yang kukasihi kini menjadi lawanku. Atau barangkali memang aku yang keterlaluan.

Tak ayal, aku langsung memeluk Naomi, meminta maaf atas suara keras akibat terbawa emosi. "Bapak minta maaf ya kak omi", bisikku Ke telinganya.

"Maaf.. Maaf.. Iya pak, jangan marah-marah ya pak" balasnya ke telingaku dengan suaranya yang serak-serak basah. "Endong mak, katanya menatap wajah ibunya".

Tak tahan lagi atas kejadian itu, bagai kesetanan, aku pergi ke dapur mengambil sebilah pisau, dan..... Tanpa pikir panjang, kusambut dua buah apel yang sedari tadi sudah menatapku seolah menantangku. 

Kuiris-iris, kucuci dan kemudian kulahap dengan segera sebuah apel itu. Mungkin, karena berusaha membujuk putri ku sekuat tenaga, perutku juga ikut-ikutan minta dibujuk. Tidak tinggal diam, "Duo Girl" dihadapanku mulai kasak kusuk, gigi Naomi juga mulai mengertak keras.

Sejenak terhenti kunyahan mulutku, dan bertanya, "kenapa? Mau!!??" Serentak Mama dan Naomi menjawab "maulah .... Hami pe male do KATUA.


1 comments:

  1. Seo blog yang sangat tinggi, numpang link. Dan isinya juga sedikit menggelitik.

    ReplyDelete

Mohon Komentar yang diberikan tidak berbau SARA dan Penghinaan. terima kasih


Top