MEGAWATI LUKAI ASPIRASI MASYARAKAT SUMUT

SAMOSIRKU,

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dinilai telah melukai aspirasi masyarakat Sumut menyusul dicoretnya RE Nainggolan sebagai bakal calon gubernur dari PDIP. Selain melangkahi aturan yang telah ditetapkan sendiri, PDIP terkesan arogan karena mengabaikan fakta yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
PDIP bahkan dinilai telah melakukan kebrutalan dan pembodohan politik secara vulgar. Pasalnya, masyarakat Sumut tahu persis sejak awal PDIP menetapkan dan melakukan proses seleksi terhadap enam bakal calon gubernur Sumut. Proses seleksi itu mulai dari pendaftaran, survei popularitas dan elektabilitas, uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test), hingga lobi-lobi.

“Ini proses panjang, mengeluarkan banyak dana, tenaga dan pikiran dari enam calon yang ikut proses seleksi,” kata pengamat politik dari Fisip USU Dadang Darmawan, Sabtu (17/11).

Enam nama yang mengikuti proses seleksi di PDIP yaitu Benny Pasaribu, RE Nainggolan, Gus Irawan, AY Nasution, T Erry Nuriadi, dan Bintatar Hutabarat (adik ipar Effendi Simbolon). Di antara enam nama tersebut, hanya Benny Pasaribu yang berasal dari kader PDIP.

Namun, Selasa lalu, DPP PDIP memutuskan Effendi Simbolon sebagai Calon Gubernur Sumut 2013-2018 dari PDIP. Padahal, Effendi Simbolon yang dikenal sebagai salah satu Ketua DPP PDIP itu sama sekali tidak mengikuti mekanisme penjaringan yang ditetapkan PDIP. “Semua proses menjadi lip service saja. PDIP menabrak cara main yang ia tetapkan sendiri,” sesal Darmawan.

Selain menabrak mekanisme yang ia tetapkan sendiri, keputusan DPP PDIP diatas juga sulit diterima nalar karena ternyata calon yang diusung PDIP bukan figur yang kuat, tidak punya basis massa di Sumut, dan tidak pernah berkiprah dalam kegiatan-kegiatan pembangunan sosial di Sumut.

Padahal, sambung Darmawan, dari enam calon yang mengikuti seleksi, ada figur kuat yang sangat diperhitungkan kandidat lain, yaitu RE Nainggolan dan Gus Irawan. Sayang, PDIP mengabaikan fakta lapangan dan asirasi masyarakat yang berkembang di Sumut,” ujar Darmawan.

Menurut Darmawan, wajar jika saat ini banyak masyarakat yang mengikuti proses Pilgub Sumut 2013 menyatakan PDIP telah melakukan kebrutalan politik. “Ini adalah fenomena pembodohan politik secara vulgar yang dilakukan PDIP di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Sementara, pengamat Politik Fisip Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Arifin Saleh, mengatakan, keputusan PDIP merupakan tindakan yang sewenang-wenang dan tidak menghargai proses seleksi yang ia tetapkan sendiri. PDIP juga tidak menghargai perjuangan enam calon yang mengikuti proses seleksi satu demi satu.

“Effendi Simbolon kan tidak pernah mendaftar untuk ikut seleksi. Dia malah ikut sebagai DPP PDIP yang melakukan seleksi, termasuk uji kelayakan dan kepatutan. Ini sebuah pertunjukan politik yang sangat buruk bagi masyarakat Sumut,” kata Arifin.

Di tempat terpisah, anggota DPR Edi Ramli Sitanggang mengatakan, penumpang gelap dalam Pilkada Sumut harus dieleminir rakyat dengan cara tidak memilih. “Orang Sumut pasti tahu saiapa penumpang gelap itu, yakni mereka yang tak tahu soal Sumut tetapi mengklaim dirinya bagian dari Sumut,” kata Edi.

Tokoh masyarakat Sumut H Dharma Indra mengatakan, PDIP telah mengecewakan masyarakat Sumut dengan mengusung calon yang sama sekali tidak popular di Sumut. “Siapa yang kenal dia di Sumut. Saya jadi mikir yang aneh-aneh, jangan-jangan PDIP memang tak berniat menang, tetapi punya agenda tertentu,” katanya.

dikutip dari : monitorindonesia


No comments:

Write a Comment

Mohon Komentar yang diberikan tidak berbau SARA dan Penghinaan. terima kasih


Top