Samosir : Proses Pertukangan Pariwisata yang Tangguh?

BINOTO HUTABALIAN, S.Sos
Samosirku,


Tahun 2011 telah menuju penghabisan kalender. Hampir sembilan tahun, tapak jejak pembangunan nyata telah dan masih terus dijerih-payahi dengan berbagai rancangan positif di sepenjuru Samosir. Sebuah pulau yang namanya menjadi lambang keramat bagi setiap makhluk Batak yang bermukim disekujur muka bumi.
Pulau Samosir, demikian disebutkan  peta. Bukan hanya sekadar pulau biasa. Bahkan jika kita mau menyepakati sebuah sebutan  atas segunduk pulau cantik yang bertahta persis dipusar Danau Toba, bagaimana kalau kita juluki saja sebagai benua Alfa dan Omega? Berupa sebutan penghormatan atas nilai histori benua mungil yang mengandung pemaknaan mendalam tentang sebuah “permulaan” dan “penghabisan”.
Terkait atas pembenaran dan pengakuan sejarah dunia bahwa selain di balik ikhwal misteri/ilmiah terjadinya pulau dan Danau Tobanya, tak dipungkiri jika masih ada segudang kenyataan dahsyat menyangkut legenda berbau mistis kekunonan mengendap jauh di dekapan pulau  juga  rahasia danau yang masih belum terkuak dan akan hingga kapan akan bertahan menjadi misteri?
Sehingga tak terpungkiri kalau pada masa kini bahwa sejarah maupun mitos misteri menakutkan itu masih kerap dipergunjingkan di kalangan masyarakat. Dan tak terkecuali lewat pengkajian para ahli yang menaruh rasa penasaran tinggi atas tantangan dibalik puing-puing Gunung Toba demi sebuah jawaban untuk riwayat letusan gunung berapi super yang konon pernah mengakhiri kehidupan diatasnya, dengan pengaruh terburuk yang diperkirakan mencatatkan jejak-sembur hingga sekitaran radius ratusan kilometer.
Kemudian seiring bersamaan kayuh waktu, manusia Batak pun masih “tersisa” sebagai kita yang hidup sekarang. Meskipun seluruh sejarah, mitos dan misteri tentang segala rekaman zaman ketika itu masih terus berlaku menjadi hal menarik bagi banyak orang yang masih terus berlanjut hingga tiba di penghujung 2011.
Lembaran kehidupan baru telah berlangsung di atas Pulau Samosir. Dan puluhan ribu atau bahkan hingga berkisar jutaan jiwa telah dilahirkan sebagai penyandang ke-Batak-an. Baik mereka yang benar-benar ikhlas mengaku sebagai Batak, atau pun juga jika mungkin ada Batak yang telah berhasil mengaburkan kenyataan Batak yang mengaliri pembuluh darahnya? Bertuturlah pada tanah dan langit.

Andai apabila masing-masing mengakui aroma Batak dalam darahnya, sepatutnya perlu ada hasil pencacahan terbaru jika sebenarnya insan-insan Batak telah membludak hingga dimana-mana.
Tanah Batak. Sebagaian besar menyebutnya Pulau Samosir ternyata telah berhasil metitiskan sosok-sosok tangguh yang muncul menjadi handal di berbagai bidang di Negara ini bahkan sepenjuru bumi. Terimakasih tanah Batak, semoga siapapun yang sekian lama nyaris kehilangan rindu pada aroma jejak moyangnya, mudah-mudahan di hari ini batin dan telinganya sedang terusik oleh mimpi. Mimpi yang mengiang tentang sebuah panggilan yang mesti dibayar tunai.
Ini akhir Tahun 2011. Untuk memijakkan kaki di Tanah Samosir akan menjadi hutang yang menyakitkan bagi siapapun. Dan barangkali inilah awal indah bagi kaum-kaum rantau untuk mulai bertobat dari sikap kegemarannya melupakan kampung.
Sembilan kali tahun berganti. Setelah Pulau Samosir berubah menjadi kabupaten oleh Undang-undang, hal itu dirasakan telah membawa angin segar kepada seluruh penghuni pulau.
Seperti kenyataan, Pulau Samosir yang masih berstatus kabupaten baru pemekaran, lumrah jika saja situasi pembangunan masih berada dibawah level setengah sempurna di berbagai bidang. Akan tetapi jangan oleh hanya hal sekilas pandang saja lalu setiap orang serta-merta langsung menyelutuk dan memberikan vonis ketidakberhasilan atas pembangunan yang dilaksanakan oleh jajaran pemerintahan. Sebab seperti apa adanya, bahwa makna sempit pembangunan itu tidak lebih hanya sebuah proses yang sulit yang berkelanjutan berupa tindakan perbaikan kembali, upaya pembenahan atas berbagai kekurangan dan kerusakan. Setidaknya yang berlaku sejauh ini masih hanya sebatas itu.
Padahal yang paling perlu dan mendesak disuguhkan oleh para perencana pembangunan ialah sketsa nyata pembangunan yang dapat segera dipamerkan dan disuguhkan. Mari tontonkan pembangunan sesungguhnya kepada luar. Upaya penciptaan baru dan terfokus dalam rangka menghasilkan suatu karya pembangunan yang fundamental. Yang dapat menyedot perhatian masyarakat luas atas karya pembangunan yang tidak tanggung-tanggung. Sebaiknya jangan membangun sesuatu jika gantung.
Dengan kata lain, bahwa kebutuhan utama dalam mendukung proses promosi kepariwisataan di pulau ini sangat membutuhkan inovasi dan dukungan dana semaksimal mungkin atas perencanaan penataan sebuah lokasi unggulan yang terpusat demi visi-misi yang telah terancang dengan matang.
Dalam membangunan sebuah bidang andalan jika daerah ini ingin tangguh dan disegani, sebagai gambaran, bahwa kita memiliki hanya beberapa saja daerah/objek wisata unggulan yang berpeluang mengharapkan percepatan penaikan taraf, status dan nilai tambah. Padahal untuk itu, untuk kebutuhan beberapa lokasi/objek andalan tersebut pada prinsipnya bahkan akan jauh lebih menarik dan unik apabila proses penataannya lebih memilih polesan ornamen sederhana dan alami saja.
Sehingga untuk mencapai ke arah menjadi Pulau wisata handal dan tangguh, dalam rangka upaya proses pencapaian target maksimal tahunan pembangunan pada setiap daerah dan terlebih-lebih daerah yang baru berkembang bahwa faktor utama penyebab perlambatan pembangunan itu sendiri ternyata terletak pada pola pikir atau kesiapan mental manusia yang berdiam pada sebuah wilayah sasaran yang sedang diprioritaskan. Sebagaimana kebanyakan yang masih berlaku di masyarakat bahwa pembangunan itu selalu diidentikkan dengan materi dan menonjolkan pribadi. Sebagai contoh menyangkut pelepasan lahan, juga termasuk masih rendahnya kesediaan berswadaya dari masing-masing masyarakat.
Sangat menjadi penyesalan mendalam  jika saja beragam tuntutan percepatan pembangunan, akan tetapi kenyataan sebaliknya bahwa yang terjadi adalah tingkah laku sok  pintar serta ocehan-ocehan sumbang yang asal dilontarkan. Hal seperti itu tidak bijak jika terus dipelihara. Sebab hal yang mendesak adalah Samosir harus berhasil terbangun, dan kita berpeluang untuk itu. Menjadi pulau wisata yang “layak jual” dan mampu bertanding.
Kembali menyangkut kepariwisataan di Pulau Samosir, bahwa pengaruh kebiasaan pulang kampung pada saat liburan dan di akhir tahunan sejak dulu oleh para perantau asal Pulau Samosir  secara otomatis ternyata telah menjadikan pulaunya dan Danau Toba menjadi sebuah tempat wisata. Meski masih sebatas tempat wisata yang hanya biasa-biasa. Lalu kapan akan tercipta menjadi luar biasa? Yang pasti, bahwa seluruh Batak akan sepakat untuk tidak membiarkan hal yang biasa-biasa saja itu akan bertahan terlalu lama. Siapapun dia, bahwa pertunjukan pulau yang luar biasa sudah menjadi impian keras di benak setiap Batak yang rindu dan yang mau.
Batak! Mari mencipta apa yang sanggup dicipta. Untuk diletak di pulau impian. Mencipta apa saja. Mencipta mimpi juga doa-doa nyata kepada penghuni pulau. Kepada mereka sanak-saudara yang masih pasrah di atas kebodohan dan ketidak perdulian tentang kemajuan. Jika kita ada beberapa ribu Kepala Keluarga yang telah berhasil dan merasa masih bisa meluangkan waktu dan materi untuk kita ciptakan menjadi apa saja, maka dapat dipastikan bahwa beberapa tahun ke depan sudah tak akan ada lagi lahan tidur yang dibiarkan dan yang tak diusahai.
Adalah peran penting tugas perantau-perantau untuk menyarankan gambaran akan perlunya kemajuan kepada sanak-saudara di kampung. Menjadi perantau bijak yang sangat berpengaruh dalam pembuatan keputusan jawaban dalam mendukung pemerintah sebagai perencana pembangunan seperti berbagai rencana pembangunan yang butuh berupa pelepasan lahan dilokasi rencana pembangunan di Kabupaten Samosir.
Akhirnya, kepada para penghuni setia Pulau Samosir jika cangkul tak lagi bersahabat dengan alam, jika tangan tak kuat lagi memecahi batu. Kita masih berpeluang hidup layak meski hanya bermodalkan sebuah senyuman tulus dan tangan yang selalu terbuka.
Maka, “Berbuat baik dan ramahlah pada setiap orang asing disekelilingmu, sebab barangkali dia adalah malaikat yang sedang menyamar dan hendak menolongmu.” Maka berlakulah bijak.*** ( Siogungogung, ’11)


No comments:

Write a Comment

Mohon Komentar yang diberikan tidak berbau SARA dan Penghinaan. terima kasih


Top