Kumpulan Puisi Binoto H Balian


Rumah 1

kita pun sependapat
memecahkan seluruh sunyi-sunyi kita
lewat sebuah teater percintaan,
dekat altar gereja.

di hadapan pendeta: selingkar pelangi-jantan
milikku: biar menggembok di jari mungilmu
dan selengkung bulan sabit-betina
milikmu: biar memasung kekar
di jemari tengah kananku

dan sebait sumpah surga pun
lalu kita koarkan sekuatnya
kepada gerombolan undangan
yang sedari pagi masih
se setia-matahari menontoni irama percintaan kita

meski jauh di kepalaku
tak lain se hanya lekuk-lekuk kebaya putihmu
yang terus kukaji-kaji, juga aroma kuntum melati
yang melingkar manja di konde kepala montokmu.
entahlah di dadamu ada se persis resahku ini?

sehabis resepsi, kita perlu sepakati se angguk janji pasti.
sebab, kasur bersprei-biru kado mertua ku itu:
memancing penasaranku bagai apa sistim pakainya?
tapi nantilah, pastikan.

tunggu mereka tuntaskan dulu doa-doa berkat
di telapak-telapak tangan mereka
yang sedari tadi kulihat nyaris bertumpahan
ke ubun-ubun kita.

hanya tinggal resepsi. dan tak akan bertele-tele.

mereka-mereka, juga massa mertua
pasti akan segera bergegas: membiarkan kita
sempat terapung-apung dan beterbangan
di dekapan buih-buih malam,
di tidur perdana: dimana kita akan saling tau
nada-nada dengkur masing-masing
yang akan kita kobarkan di sebuah kamar sempit
rumah kontrakan di sudut kota tua.

tempat yang paling tepat
untuk kau dan aku belajar menganyam keringat
menjadi nada-nada tangis
yang sudah mulai menggema halus
di poro-pori plafon lapuk

Nainggolan, Topi Tao  Maret ’06












Rumah 2

ini secangkir kopi, bisikmu
pelan, dan terkesan manis.

sebuah kursi rotan, dan aku
sedang menunggumu.
menyaksikan gumpalan senja
yang segera akan
tersedot ke purusan angin sore

bayi perempuan di gendonganmu,
tangisnya baru reda.
mari sama-sama membaca lembayung
dan capung-capung
yang masih memunguti aroma kering
di rumput-rumput halaman

senja ini tak canggung lagi buat kita.
bahakan cara duduk seperti ini juga
sudah sangat sering kita cipta dulu
di sembarang tempat yang kita sepakati

untung kita pernah pacaran
dan pernah menulisi cinta
di dinding-dinding malam.

sobekan-sobekan kalender itu
telah sukses kutukangi jadi rumah
dan kau memungutinya
sebagai pengganti popok
buat anak pertamamu
yang jidatnya
sangat mirip dengan neneknya.
serta bayi perempuan di gendonganmu
tangisnya
telah berhasil memaksaku
menggadaikan seluruh keringat hingga ke
sepenjuru musim.

Topi Tao, Parbaba April ’10
























Aku Sebatang Bunga atau Kelapa

di hadapan tanah,
kita tak jauh beda
dengan kambing dan kerbau

sebab setiap, selalu mengaku cucu tanah
yang paling gagah,
dan yang tampil paling raja
atas segala rimba
juga atas sepenjuru pelataran kota

yang aku tau,
kerajaan terbesar hanyalah kerajaan semut
alias penguasa tanah yang benar-benar tenar
di antara para cacing

bahkan kami hanya seorang manusia
yang jika masuk tanah, harus pasrah
berlutut di kerajaan cacing
dihadapan para semut

ampuni kami ya tanah.
sebab aku telah mulai gentar
setiap kau rencanakan lagi
sebuah nganga,
dan seayat tampar ke arah samudera

ampuni kami yang selalu merasa raja,
dan yang masih belum puas bersaing
lewat auman singa-singa
dan para gajah yang akhirnya berdarah

ampuni aku ya tanah,
ya bahan-baku-bangkai-moyangku: adam

aku tau dedebu jejak tuhan masih pekat
lekat ada padamu

maka beri aku ingin tumbuh
sebagai bunga atau pohon kelapa.
yang tak butuh gelisah berebut raja,
atas apa pun.

maka biar kan.
aku hanya numpang berakar di porimu.
hanya perlu berbunga,
dan hanya butuh berkuah
walau untuk beberapa musim

aku hanya ingin tumbuh jadi sebatang bunga,
atau pohon kelapa,
ingin ku temani matahari membolak-balikkan teriknya
sampai pesan tuhan tuntas
terlukiskan di bentangan senja merah

Topi Tao, Samosir ’2010








Seayat Pelaminan untuk Rindu


ke muara sungai mana akan kutumpah
lelehan wajahmu
yang  menahun membanjiri mataku?

patahan-patahan bayangmu
masih kupapah ke sepenjuru arah.
melintasi curaman-curaman sunyi
serta segala tikungan-tikungan sepi yang menggerjaji

di sini. di desemberku yang ke dua puluh enam,
aku, letih, mengeja pelaminan
yang tak kunjung pulih dari kutuk sendiri

memang, akulah
juara atas segala tahta sunyi,
juga maha raja
di antara para pengoleksi luka-luka matahari
makanya, berbagai gelar sunyi
dan lencana luka bertaraf semesta
telah bertabur di dadaku

rasaku, waktu nyaris hangus terbakar,
dan, serasa esok
telah tinggal hanya semenit

ini: malam tahun terakhir bagi debar jantungku.
debar yang paling petir,
serta rindu yang paling menggasing

henti dulu. lajumu:
o bulan sabit yang membabibuta,
yang menjalar.
jangan dulu terobos pintu subuh!
sebelum kucerabut ulang segala duri
yang masih menancapi segala mimpi

agar esok,
saat bayi fajar mulai belajar membuka mata:
tak kan lagi kugendong duka-duka semalam.
dimana aku
tak kan lagi lelaki:
yang gemar memaki jalan dengan cemeti rindu

Samosir topi tao, Desember ’05


















Demonstrasi Luka

Aku tak lagi hafal ayat-ayat doaku kemarin.
tersebab jerit bingar mereka
terus mengendus-endus
pada jejak huruf-huruf puisi
yang kusulam
dengan benang warna segala luka

di bait-baitnya:
tulang kering mereka meradang
nyaris seretas daun waru
yang rapuh diremas-remasi terik

aku cuma ingat
seperti apa
cara mereka mengaminkan air mata.

mereka:
yang terjungkal ke ladang-ladang
yang dikecambahi dedebu,
serta bau pesing angin
yang merembes ke bantal-bantal lapuk:
yang sembab
oleh basah yang sumbernya bukan dari langit:
tetapi
oleh bola mata mereka yang berpecahan
menangisi puisi-puisi sawah
yang terlalu lama terbakar
bersama jasad-jasad belukar

di sebuah sudut halaman,
cekikikan bocah berkerumun,
mentertawakan gelinjang seekor cacing kepanasan
saat kutuntaskan akhir bait puisi tentang
sekeping mimpi:
yang layu dan yang sekarat.
yang menetes,
dan yang menetas di cekungan bebatu air mata

aku tak tega melukis
muramnya reranting waru,
atau tentang lusuhnya alir sungai,
tak lancang menyaksikan
kumuhnya wajah langit, serta lautan
yang selalu memendam amarah,
bahkan gunung-gunung
yang tak henti-hentinya bersujud,
menyembah matahari

cukup.
hentikan.
sudahi berpuasa, pada puji-doa dan sedekah.
dan mari putuskan: menikahi surga!
hingga kelak, kita lahirkan lagi janin waktu
yang tak mampan kelak pada terik dan badai.

Topi Tao Toba, Mei 2010







Pantai Empedu

Beginilah. bila rindu mengeja rintihan,
mulut lelaki:
tak henti-henti berkoar membentaki bukit.
dan paling benci
memunguti tetes-tetes sepi
yang telah menggunduk jadi empedu,
sementara,
bisu temu masih saja kau pelihara di bibir mu.

aku sedang tercecer,
di pangkal ombak perbatasan,
menyusun buih
menjadi selengkung jarak
yang arahnya
mengejar laut, menuju arah hilang
yang buru-buru mendamparkanmu
ke pantai asing 

ombak tak menoleh,
ombak tak minta maaf
ketika ia curi dirimu paksa,
di atas kapal.
dan lagi-lagi, aku pecah jadi buih,
ombak sadis:
terbahak menamparku yang sedang terbakar,
yang hancur
dan yang berantakan
ketika ku tau,
bahwa harus tiba aku
memproklamirkan sunyi

helai-helai senja:
kugulung satu per satu,
saban pagi
aku tuntaskan lukisan bulan-bulan sabit.
berpacu
dengan musim: berlomba menguliti waktu

sebab tak ingin kupetik mawar,
sebelum tangkainya menyerah,
sebelum serbuk bunganya berhenti tersenyum
ke arahku,
sebelum durinya benar-benar menusuk.
sebelum!

o awan, o burung elang,
o kapal, o angin, o ombak
yang terkekeh-kekeh menyumpahi sunyiku!
mari berdamai!

aku lumpuh terhajar matahari,
aku remuk terkunyah bulan.
tungguku ini: terkilir oleh pitingan tahun

maka persilahkan aku:
berkeluh-kesah pada ratu ombak,
pada ratu badai
yang menyembunyikan tubuh kekasih
sepuruk palung waktu yang tak terjangkau

jawab rintihku ini:
di pelabuhan mana, dia kau tambat? 
dan telah sekenyang apa kau kunyah bayangnya

kutemukan, tubuhku
kian lebam dihimpit tebing sepi
yang tak tenaga lagi aku panjat.
: selingkar hati: masih melengkung di jemarinya.
Topi Tao Toba, Januari 2005
Lembar Penghabisan
            : SH

Payung hitam. kerudung hitam:
tangis tanah yang menganga

kerudung hitam, payung hitam:
tanah basah oleh air mata

tanah hitam berjatuhan,
terkunci
batu hitam:
sebuah nama hitam tertulis dengan berat

: kisah hitam berhenti di bawah matahari
sedetik sebelum awan memekat

matahari hitam:
lambaian lunglai,

segala duka berceburan ke sudut hening.
tatapan hitam
semakin hitam

matahari hitam: merebus air mata
yang sedang terbata-bata membaca cuaca

Pekanbaru, Desember ’01





































Surat Bertinta Api

Sudah pecah ombak penutup
badai sore ini. tapi,
masih ku rindu surat-surat sufimu
menerompetkan nada-nada obat
atas sunyiku yang semakin menyengat

barangkali komat-kamit lidah puisimu sudi
menjilati nanah sepiku

sebagaimana
lidah-lidah ombak yang pintar mencumbui pesisir.

aku sering kegelian, tertawa sendiri,
manggut sendiri, menjerit sendiri.
tiap kali puisi-puisimu
tiba-tiba berubah jadi pisau, jadi cacing,
jadi mawar, jadi batu,
jadi tangis, jadi badai, jadi api
jadi empedu
yang kadang terkunyah mirip ketumbar

aku tau, waktu
tak lah sekerontang pelataran sepi
yang kini kuperistri.

namun,
kecerewetanmu membongkar
segala gudang bayang seberang,
dan oleh lugumu mengirimi kabar sunyi
yang tiada beda,
seperti kulihat:
arwah cintaku bangkit lagi
dari puing gedung-gedung tua
yang telah hancur,
juga dari tiang dermaga reok
yang kini tumpas diwarnai lumut

tatapan tajam mercusuar:
meruncing, tikami mataku.
sesengat kabar-derita rinduku
yang kau tuang juga di sehelai kertas usang
yang masih terselip di saku celana

suratmu itu,
kau tulis. namun kau kirim terlambat
jauh sesudah
penghujung sunyiku pulih tiga purnama lalu.

Ampun! sepulu tahun
aku berdiri, sebagai tugu.
tungu yang jelma jadi artefak:
apa masih kurang pahit?

Ini,
ku kirimi engkau miniatur-tahta-sepiku
sebagai hadiah nikahmu.
sebab katamu
tak lagi engkau sudi melacur
pada sebait kenangan usang
yang telah kau sumpahkan
sehanya sepah-sepah permainan

Pekanbaru, oktober ’03
Ritual Obat

ogung sabangunan menggertak tengah malam
ke jantung waktu, mengusik se-penghuni pohon ara
dan jabi-jabi

raja-raja adat bermantera di sepenjuru rindang bambu.
dengan suara tabas yang menyayat-nyayat
menyuruh anjing-anjing bergegas menjemputi arwah-arwah
yang manortor dan marembas di bibir pekuburan

segala mulut, jelma sarune,  persis seirama sungut-sungut
segala jemari, jelma hasapi, gemeretakan
segala jantung, jelma tagading yang menubruk-nubruk
segala nafas, jelma ogung:
bertalu-talu
menghantarkan mereka
mengetoki pintu-pintu jiwa para sumangot
yang selama ini sangat tertidur pulas
di bawah tumpukan tanah-tanah pemakaman.

maka manortor lah batu-batu dalihan natolu
mengitari tugu belulang yang dikawal tunggal panaluan,
menyembahi delapan mata angin,
memohon para penjaga pusuk buhit
agar sigale-gale turut marembas dengan mereka
hingga  jemarinya nyaris berpatahan menuntaskan
tarian-tarian pangurason.

aku manortor di susu dainang yang mangurdot
menjunjung bakul berisi doa dan parbue pir.
dengan langkah kaki serentak yang menghentak-hentak.
raungan puisi, terdengar meramu udara

sejuta doa, bertumpahan di halaman ruma ijuk
seperti ingin mengibaskan dedebu mimpi buruk
dari rumbai-rumbai ulos yang kian menggeliat
di pundak damang dan dainang

sarune menjerit sendiri dalam auman ogung
yang mulai kedap,
yang mulai lindap oleh suara angin.
persis mirip tangisan yang berliku-liku
seperti kobar-kerinduan-lidah-lidah yang haus
pada sapa dan na ni ura yang dimasak dainang
dengan unte sira
yang berabad-abad mendesir-desirkan liur
kami, yang sedang hilang di tanah-tanah asing

di penghujung kerinduan,
kuhaturkan tiga kali horas
kepada tiang-tiang ruma ijuk yang ikut manortor.

Nainggolan, topi tao ‘05

Keterangan:
Ogung sabangunan: musik tradisional Batak lengkap; Jabi-jabi: sejenis pohon beringin; Tabas: mantera; Manortor/marembas: menari mengayunkan tangan dan kaki; Sarune: Terompet batak; Hasapi: kecapi; Tagading: gendang; Ogung: gong; Sumangot: arwah leluhur;
Dalihan na Tolu: falsafah tiga tungku batu; Tunggal Panaluan: Tongkat berukirkan tubuh seorang raja;
Pusuk Buhit: Gunung Pusuk Buhit; Sigale-gale: Patung manusia kayu yang dapat menari;
Dainang: Ibu; Damang: Ayah;  Parbue Pir: Beras; Mangurdot: tarian dengan liukan pinggul dan lutut; Ruma Ijuk: rumah Batak beratap ijuk; Ulos: selendang tenunan Batak;
Na ni Ura: Ikan dimasak tanpa api hanya dengan asam/jeruk nipis;
Unte Sira: sejenis asam/jeruk nipis; Pangurason: ritual tari pemercikan air jeruk purut dari cawan putih.
Horas: Salam khas Batak mengawali setiap perjumpaan /pembicaraan/perpisahan.
Profil:

Binoto H Balian,

Lahir 13 Juli 1979 di Pardomuannauli Desa Harian Pulau Samosir – Sumatera Utara. Alumni Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau.
Pecinta sekaligus penikmat seni, yang berguru dan mengadu pada waktu, pada bumi, pada langit juga pada mimpi.

Menulis sejak duduk di bangku SMA entah hingga kapan. Menulis Puisi, Cerpen, Cerbung, Opini dan Esai sastra di berbagai media seperti: Majalah Sastra Horison, Majalah Budaya Sagang, Harian Umum Riau Pos, Harian Batam Pos, Harian Riau Mandiri, Harian Global, Harian Medan Bisnis, Harian Analisa, Harian Waspada, Harian Lampung Pos dll.

Bekerja sebagai penulis dan sekaligus sebagai pekerja di Kantor Camat Pangururan, Pemkab. Samosir. Masih menggeluti kesenangan sebagai penggiat sastra di Dewan Kesenian Samosir (DKS), sekaligus sebagai Perwakilan Daerah Majalah Budaya Sagang di Samosir.

Berdomisili di Pantai Pasir Putih Desa Hutabolon – Parbaba, Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir – Sumatera Utara, Kode Pos 22392.







































Kalender Tanpa Berahi

melulu, gelap terbakar
di akar-akar senja
mengasapi kaca jendela kamar
saat mulai kurumahi ranjang
sebagai pelaminan tanpa aroma kelamin

sebagaimana sesediakala
setiapkali pagi tak lagi paham angka
setiapkali tanah kuburan menyemat di matahari,
bilangan senja itu
melulu kobaran tangis serupa gerimis
yang menderas di rindang daun

meski tanpa alir sungai,
walau tanpa biduk,
pun tanpa kibar layar,
aku mesti menjalar menuju debar-debar
yang sangkut di gunduk ombak.
ke juruMu: kutub sepi yang terlupa.
yang terkeranda di atas meja kayu

menghitung lengang ini,
sama sumbangnya dengan cericit angin,
serupa menciumi berkas bayangmu,
melulu, rembulan menyusu di mataku
serta angin yang setia mengusap air mata

tapi, engkau masih melekat di bibir,
masih menarikan tari sunyi
seolah-olah ingin kau pertegas lekuk berahi ke dadaku

hingga gelap merayapi paru,
hingga sesuap cinta gagal terkunyah,
seluruh lamban-waktu
mungkin telah tuntas kuhirup,
tanpa terbayar hutang berahi
yang masih kau erami di jemari

tapi subuh masih pedas,
tapi senja masih masam,
tapi malam masih pahit
dan siang ternyata masih sesepat kemarau.

Topi Tao Parbaba, 2008

















Seikat Doa, dan Pulau Biru

secangkir kenangan
belum sempat kau tuang untuk dahagaku
saat engkau meronta lagi ke arah-kapal-hilang

salah-apa ombak, atau elang-elang putih
sehingga tak sederajat pun
kau sudi menoleh ke bekas-bekas jejakmu?

belum lagi tanda-tanda malam membintik di tenggara,
telah kau gulung senyummu
menjadi sebuah lambai
yang kau kibas dengan nada-hambar
sambil kau tarikan jurus langkah-amarah

bahkan belum sebatang rokok pun
kuresapi sore ini
ketika kita-coba berbincang menemani butir-pesisir
yang sebentar lagi
pasti berubah jadi lampu malu-malu di pelabuhan,

begitulah.  pergimu
telah membekukan sekeping-sisa-lembayung,
langit sebuah-beranda
yang belum pernah berhasil menimang bola matamu.

Beginilah senja-senja sepeninggalmu,

sepenghuni pulau telah letih
merintihkan rindu-rindu-purnamanya,
tapi aku masih saja, masih tetap seorang pramusuara,
yang bagai-api
membunyikan melodi-melodi-gitar-kenangan
ke sepenjuru cuaca malam
di pub cattage-cottage
hingga ke deretan bungalo
yang-satu-satu tampak telah mulai belajar berdandan
dengan segala solekan dan bebunga-warna

pun, :
segala mitos pulau biru itu,
juga sejarah centil ombak-ombak
masih belum sukses kutukangi dengan lagu,
atau dengan ayat-ayat rindu yang terpaksa kusadaikan
di pancang-pancang-dermaga yang melumut,

namun alinea-alinea rindu untukmu
entah sampai setengah mati
pasti mesti kukuliti seteliti-hati
meski itu hanya lewat surat-surat yang belum juga beralamat
entahlah hingga kuas di jemariku ini mati lemas
saat air mata dan kaligrafi-doa-doa
kutorehkan sebagai firman-pulang bagi jejak mu
yang urung mekar dari pori-pori saujana hitam

muncullah jadi selengkung pelangi-muda
yang tersenyum di atas danau
pada  sebuah perjamuan senja:
yang selalu membiru di pulau kemarau

Topi Tao Parbaba, 2008



Kibas Purnama di Pesisir Parbaba

seonggok lelaki, tertancap: di sini
mengerami percik-percik ombak
di pasir-pasir
yang malam ini, putihnya,
begitu sedapnya oleh sapuan purnama

lelaki : membaca ombak
dan mulai menghitung satu per satu
panah-panah sunyi yang kian meruncing
ter-arit angin.
dan sebakar resah memuntung di jemari
serta kepul asapnya tak sanggup
membohongi risau lelaki yang juga ngepul
pada ini purnama

tak seperti lampau-lampau,
ketika malam-madu masih
akrab kita cipta tiap tiba malam-panjang
: aroma rambut-lumutmu
yang baunya sewangi embun
telah menysisa ledakan duri, yang tikamnya
menancapi sakit ke dinding-dinding ingatan  

sekeping lelaki, lentang sejajar-pasir
selalu ingin menceburi genang langit
yang menyakitkan,
sebab sendiri-ini
telah keterlaluan-sunyi, mengalahkan
sunyinya bangkai-bangkai penghuni pekuburan

setetes lelaki, teriakkan nama hingga berpetir,
mengacak-acak pasir yang juga
ialah tentang seayat sumpah
yang pernah tumpah di tepi pulau

:di genangan danau, Toba,
lelaki-retak, mengaduk-aduk puing air mata
sembari menunggumu, persis di pesisir Samosir
sebab eembun yang selalu kuwarnai dengan rindu
telah semakin jelma tembok hitam yang meninggi

Pasir Putih – Parbaba,





















Perempuan Penjaga Dermaga

buatmu, aku pasti sudah angin.
,sejak pernah
tuhan mengutukkan selengkung jurang-panjang
di jejak-jejak kita
hingga entah,
siapa dari kita
yang sesungguhnya duluan menguap
atau yang kemudian terpasung?

jikalah aku yang menguap,
ke pori tanah yang mana bayang-bayangmu
dulu terjepit?
pun belum siapa antara kita
yang mengaku layu
atau telah jadi batu

namun surat mantra pencarianku
biasanya hanya sanggup
kukirim pada langit, atau pada rembulan
yang tak pernah pasti kapan sempat menepi

juga sayap doa-doaku sering kukepak-kepakkan
menjelajah waktu
sampai kutemu
kemana rangkulku akan melingkar di lehermu

lalu, malaikat cengeng yang tak tahan menonton
sunyi-perempuan, kecarian pada arah jejakku
hingga aku kepergok
sedang menulis lagi tentang surat cinta
yang itu-itu juga

maka dari anginlah aku dirogoh untuk diantar
menuju pulau-galau
yang ternyata adalah persembunyianmu

kutemukan tubuhmu, kaku
mungkin sesering itu kau menungguku
masih bersama angin senja menjagai pelabuhan
sampai ujung-ujungnya kuputuskan juga
untuk menghunuskan sebilah rindu api
yang mendengus-dengus
dan yang setajam air matamu

Hutabolon Beach,


















Sarang Para Malaikat
: Samosir Island

sehelai langit purnama
mewarnai kunang-kunang
yang terburai
dikibas sayap keluang-pulang
di bawah semburat awan bening
yang tersobek liris-liris

angin berisi risau jangkrik, terdengar
mengarak-arak sekeping bulan perak ke tenggara
sembari menyiulkan sayatan ayat-ayat rindu
milik para malaikat perempuan
yang bergelantungan di lingkar-pelangi-malam
:para malaikat
yang pamit dari perjamuan-kayangan, turun
menyapa kunang-kunang
dan berhinggapan di atas buih reriak danau

dari celah surga, tuhan membaca malam

tuhan tertarik,
tuhan melirik
tepian Toba merendam
segerombol tubuh malaikat perempuan

sesekali tersenyum, saat ombak-ombak mungil
terbelah oleh kibas selendang-selendang kiamat
yang terus mengibarkan dedenyut waktu

tapi, hanya beberapa kokok
sebelum gerbang subuh menyala,
bahak-bahak tuhan tuntas
menguap ke rembulan perak
dan tinggal suara seribu-satu kepak
berpacu menggapai Pusuk Buhit
menyudahi ritual-ritual danau para penghuni angin

Pusuk Buhit, Januari 2009

























Terowongan Sunyi

hanya dadaku yang tau persis serasa apa sendiri
sebab senja masih terdengar merintih
saat terpaksa ia mengingatkanku
kepada bekas lambaianmu
yang berkobar dalam lembayung

serta malam yang terus meluap
memekarkan bayang-bayangmu
yang biasa kutemukan
mengenakan gincu merah muda

hanya mataku
yang paham segala
yang bergentayangan dalam kelam
saat angin ditunggangi sepi.

matahari
yang cuma bisa bungkam,
atau soal terik yang mengerumun,
juga tentang pagi
yang belum sekalipun sukses
membangunkanku telak di sisimu

hanya kakiku
yang hapal apa itu letih dan rintih
karena menunggumu,
lebih dari pendakian panjang
yang sungguh menggerus peluh

dan nada aduh
yang berembun terendam malam
serta doa-doa panggil
tak juga kunjung meledakkan jejakmu
di penghujung terowong sunyi
yang kau gali


hutabolon beach,  09

     























Semburat Mu di Pulauku
            : Pekanbaru

empat idul fitri lalu
aku ingat, pernah dulu pamit dari dekapmu.
pamit terakhir

bukan pergi, Cuma sejenak
hanya menjenguk kampung
yang menahun memeram ingatanku

hanya ingin merunuti jejek-jejak bocahku
tak begitu jauh,
cuma beberapa jengkal
ke utara: yang dulu pernah
membesarkan sekujur ruas-ruas persendianku

meninggalkanmu:
ialah luka.
seperti dadaku
yang selalu melulu di goncang rindu

tentang beduk-beduk adzan
aroma pejalan-kaki-pasar-pagi,
gadis pekerudung berhidung mancung,
juga pada asmara yang sempat berkecambah
di jembatan dekat surau-mu

serta aroma jelaga air mata yang berhembus
dari arah belukar

meninggalkanmu:
pilunya mirip pelangi kering
yang berpecahan sebelum lengkung

dari persimpangan angin ini,
masih bening bergiang,
bahkan orasi-orasi
termasuk jerit pasir pesisir

 Parbaba beach,  2007
























Pulang

Langkahmu:
hanyalah derap-derap kaki
yang merengsek berpacu
menuju persembunyian matahari sore

satu per satu,
dan siapapun itu.
cepat
atau lambat
pasti akan saling melewati

maka buntuti jejak-jejak detik
yang membekas-lurus:
menuju sarang purnama

sebab waktu
tidak pernah menjalar seperti ular
dan tidak akan ada tawar menawar
sebab kita telah tumbuh bersama pohon,

dan akan tumbang
persis saat ada badai.

atau siapa kita yang bermimpi:
sebuah pulang yang tanpa surga?

Nainggolan – Parbaba,  2007




































Sebatang Rokok

malam,
tetap saja malam

mata mestinya pejam
menyelami genangan mimpi

kupilih
berbincang
dengan lengang
dan  berdekapan dengan arus malam
yang semakin lengking

sebatang rokok,
sebilah pena,
sama-sama terbangun,
saling mengerling
sambil membaca jelaga
serta tinta
yang semakin mempertegas segalanya
yang pernah hilang

masih sampai detik ini

Hutabolon beach, 09







































Replika Air Mata

seseorang.
tumbuh sebagai arang

walau di siang
manapun,
awan-awan empedu melulu terpayung di kepala

berbagai langkah-gerah,
gundah,
menggeledah pori-pori tanah
seolah merogoh puing-puing surga
yang berajal-ajal
belum kunjung tertugal tangan

seseorang,
adalah bayangan-bayang,
bergetayang
lalu tumbang
oleh taring-taring siang
dia, para pendaki waktu
persis seperti kita:
yang berebut
menggerayangkan segala tengadah
kepada sebongkah angin
jelang senja

setelah
sawah telah tinggal khasidah
dan nelayan
terpaku menonton gelombang

seseorang,
terus berjalan sebagai arang.
meski malam tak lagi menghadiahkan mimpi
: patung arang yang tengah mendongak pada utara
menuju tenggara
dengan tatapan senyap
yang selalu hancur terbentur dinding terik
serta badai yang terlalu sombong menarikan tikam.


Hutabolon – Pasir Putih, 09





















Rumah

kita pun sependapat
memecah seluruh sunyi-sunyi kita
lewat sebuah teater percintaan,
dekat altar gereja.

di hadapan pendeta: selingkar pelangi-jantan
milikku: biar gembok di jari mungilmu
dan selengkung bulan sabit-betina
milikmu: biar pasung
di jemari-tengah-kananku

dan sebait sumpah surga pun
kita koarkan sekuatnya
kepada segerombol undangan
yang sedari pagi, se setia-matahari
masih menontoni irama percintaan kita

meski jauh di kepalaku tak lain
se hanya lekuk-lekuk kebaya putihmu
yang terus kukaji-kaji, juga aroma kuntum melati
yang melingkar manja di konde kepala montokmu.
entahlah di dadamu ada se persis resahku ini?

sehabis resepsi, kita perlu sepakati se angguk janji pasti.
sebab, kasur bersprei-biru kado mertua ku itu:
memancing penasaranku bagai apa sistim pakainya?
tapi nantilah, pastikan.

tunggu mereka tuntaskan dulu doa-doa berkat
di telapak-telapak tangan mereka
yang sedari tadi kulihat nyaris bertumpahan
ke ubun-ubun kita.

hanya tinggal resepsi. dan tak akan bertele-tele.

mereka-mereka, juga massa mertua
pasti akan segera bergegas: membiarkan kita
sempat terapung-apung dan beterbangan
di dekapan buih-buih malam,
di tidur perdana: dimana kita akan saling tau
nada-nada dengkur masing-masing
yang akan kita kobarkan di sebuah kamar sempit
rumah kontrakan di sudut kota tua.

tempat yang paling tepat
untuk kau dan aku belajar menganyam keringat
menjadi nada-nada tangis
yang sudah mulai menggema halus
di poro-pori plafon lapuk

Nainggolan, Topi Tao  Maret ’06












Aku Ingin Tumbuh
jadi sebatang Bunga atau Kelapa

di hadapan tanah,
kita tak jauh beda
dengan kambing dan kerbau

sebab setiap, selalu mengaku cucu tanah.
paling gagah,
dan yang tampil paling raja
atas segala rimba
juga atas sepenjuru pelataran kota

yang aku tau, kerajaan terbesar
hanyalah kerajaan semut
si penguasa tanah
yang benar-benar tenar
di antara para cacing

bahkan kami: hanya seorang manusia
yang jika masuk tanah, harus
berlutut di kerajaan cacing,
dihadapan para semut

ampun ya tanah.
aku mulai gentar
setiap kau rencanakan lagi sebuah nganga
dan sebilah tampar ke arah samudera

ampun.
jika kami selalu merasa raja,
dan masih belum puas bersaing
dengan auman singa-singa
dan para gajah yang akhirnya berdarah

ampun, ya tanah.
ampun
ya bahan-baku-bangkai-moyangku: adam

aku tau dedebu jejak tuhan
masih lekat padamu

maka beri
aku ingin tumbuh sebagai bunga
atau pohon kelapa.
yang tak butuh gelisah
berebut raja atas apa pun.

maka biar kan.
cuma numpang berakar di porimu.
hanya perlu berbunga,
dan hanya butuh berkuah
walau itu beberapa musim

aku, hanya
ingin tumbuh jadi sebatang bunga,
atau pohon kelapa,
ingin ku temani matahari
membolak-balikkan teriknya
sampai pesan tuhan tuntas
terlukis di bentangan senja merah
sebentuk sajadah

Topi Tao, Samosir ’2010

Reuni Burung Pipit

engkau terpampang lagi
di mataku,
saat persis,
senja mulai bertengger
di pucuk-pucuk Enau.

angin sawah terbedak ranum,
di pipimu.

apa singgah ini
cuma sekadar reuni-masam
atas waktu yang pernah kita tugal
di atas dangau-bambu ini?

lantas, kemana saja jejakmu
dulu kau sembunyikan
saat rok remajamu itu
berubah wujud jadi kebaya?

jemari waktu
ternyata telah mendandani tubuh-mungilmu
tuntas se kerlap-kerlip tao toba,
hingga
orang-orangan sawah itu
pun turut kelimpungan
ketika bibirmu rekah merah
melebihi  bianglala
yang berkubang di atas padi-padi
yang mulai kemuning

lihat,
dangau bertiang tujuh itu,
rumbianya telah ku ganti,
juga tujuh kali.

kini kau ziarahi juga teras kampung
berbentuk dusun ini,
dan kau temukan
langgit-langit sawah
pun masih tetap diricuhi cericit burung pipit
yang kini telah beranak cucu
tujuh kali, dalam abu jerami

kesinilah,  serahkan rambutmu
ke pangkuan ku,
dan tidurlah bersama jemariku:
sampai kedua-limpa-batu-kita
hancur berkeping-keping,
sambil kau ceritakan lagi
kamana ikat-rambut-akar-pegagan
yang dulu rajin terkepang
setiap kita usai mandi-mandi sungai?

Onanrunggu, topi tao 1997









: Kepada Cuaca

ya sajak, ya puisi,
ya waktu, ya rahim ibu!
lidah-lidah masih patuh bersyair
tentang ulah petir dan dengusan angin
yang terus memelintir.
air mata kami
terperangkap di lidah neraka

ya api, ya tanah,
ya salju kutub !
jangan bakar, jangan kubur
dan jangan bekukan dulu suaraku
yang tak henti-hentinya menikami cuaca.
sebab mengeja setitik gerimis
susahnya: bahkan melebihi usia gerhana

ya langit, ya air,
ya halilintar!
telingaku nyaris tuli oleh detak-detak luka,
dan nyaris buta oleh percak-perik terik.

wahai roh segala batu,
ya arwah segala moyang,
ya firman segala tuhan!
tangan kami: pegal
menugal hujan di arang rimba,
kebas: menyuling air mata di bangkai telaga

ya timur, ya barat,
ya jantung malam, ya terik!
apa harus kami tonton sendiri:
bocah-bocah yang menyala dan hangus
bersama semak belukar yang terbakar?

Parbaba, Agustus kering 2010


No comments:

Write a Comment

Mohon Komentar yang diberikan tidak berbau SARA dan Penghinaan. terima kasih


Top