NO.
    HARI/ TANGGAL
    KEGIATAN
    HASIL KEGIATAN
    1
    Senin/ 1 Februari 2010
    - Apel Gabungan di Kantor Camat Pangururan
    - Serah Terima Jabatan Kepala Desa Siopatsosor
    Penyerahan tugas-tugas dari Pjs Janahot Sihaloho kepada Kades terpilih Marolop Sihaloho yang dihadiri oleh BPD
    2
    Selasa/ 2 Februari 2010
    - Apel Pagi
    - Bekerja di Kantor Camat Pangururan
    Berjalan dengan lancar
    3
    Rabu/ 3 Februari 2010
    - Apel pagi
    - Pelatihan di BPN bersama Camat Simanindo
    Berjalan dengan lancar
    4
    Kamis/ 4 Februari 2010
    - Apel pagi di Kantor
    - Rapat koordinasi Dewan Penyantun bersama TP. PKK di Kantor Bupati
    Berjalan dengan lancar
    5
    Jumat/ 5 Februari 2010
    - Apel pagi di kantor
    - Penertiban Penambang Liar galian C di Kel. Siogungogung
    Berjalan dengan lancar
    6
    Senin/ 8 Februari 2010
    - Apel pagi/ gabungan
    - Bekerja di Kantor
    Berjalan lancar
    7
    Selasa/ 9 Februari 2010
    - Apel pagi di kantor
    - Mengikuti rapat di tuktuk di hotel duma sari
    Berjalan lancar
    8
    Rabu/ 10 Februari 2010
    - Apel Pagi
    - Bekerja di Kantor
    Berjalan dengan lancar
    9
    Kamis/ 11 Februari 2010
    - Apel pagi di kantor
    - Pertemuan Musrembang di Desa Hutabolon
    - Musrembang di Desa Panampangan
    Berjalan dengan lancar
    Menampung aspirasi masyarakat dengan usul-usul pembangunan
    10
    Jumat/ 12 Februari 2010
    - Apel pagi di Kantor
    - Rapat di Kantor Kesbang Linmas Evaluasi dan Optimalisasi
    - Rapat tentang Adipura di Kantor Bupati
    Berjalan dengan lancar
    Untuk memilih Koordinator Linmas
    Supaya dibagi areal tanggungjawab masing-masing SKPD
    11
    Sabtu/ 13 Februari 2010
    - Musrembang di Desa Parsaoran I
    - Musrembang di Desa Lumban Suhi Toruan
    Menampung aspirasi warga melalui kegiatan perdusun
    Berjalan dengan lancar
    12
    Senin/ 15 Februari 2010
    - Apel Pagi di Kantor
    - Musrembang Desa Siantinganting
    - Musrembang di Desa Aek Nauli
    Menampung usul-usul masyarakat
    Menampung usul-usul masyarakat
    13
    Selasa/ 16 Februari 2010
    - Apel pagi di kantor
    - Sosialisasi Pemilu kada perempuan
    - Musrembang di Desa Aek Nauli
    Berjalan dengan lancar
    Menampung aspirasi Masyarakat
    14
    Rabu/ 17 Februari 2010
    - Apel Pagi di Kantor
    - Rapat dipimpin Asisten I dan Kabag Tapem juga BPMPOD dan Keuangan
    Berjalan dengan baik
    15
    Kamis/ 18 Februari 2010
    - Apel pagi di Kantor
    - Mendampingi kunjungan Pak TB Silalahi
    - Musrembang di Desa Lumban Pinggol
    - Pembinaan Desa Siopatsosor
    Meninjau museum Katolik dan Makam AE. Manihuruk
    Berjalan dengan baik
    Berjalan dengan baik
    16
    Jumat/ 19 Februari 2010
    - Gotong Royong di Desa Siopatsosor
    - Sosialisasi Pilkada untuk Pimpinan Gereja
    Berjalan dengan baik
    Utusan dari setiap Gereja berjumlah 100 (seratus) orang
    17
    Sabtu/ 20 Februari 2010
    Musrembang di Desa Parbaba Dolok
    Berjalan dengan lancar
    18
    Senin/ 22 Februari 2010
    - Apel Pagi Gabungan
    - Memanggil kades pardomuan I
    - Rapat di Desa Parsaoran I tentang BPD
    Berjalan lancar
    Agar meningkatkan kinerjanya
    Membicarakan masalah kades dan BPD
    19
    Selasa/ 23 Februari 2010
    - Apel Pagi
    - Mendampingi Tim Penilai PHBS
    Kunjungan di Kelurahan Pasar Pangururan
    20
    Rabu/ 24 Februari 2010
    - Pembukaan Sosialisasi Pemilu Kada di Aula HKBP Siswa/I SMA, SMK
    - Menghadiri Konfrensi (Konfercab PDIP di Hotel Dainang Samosir)
    Berjalan lancar
    Berjalan Lancar
    21
    Kamis/ 25 Februari 2010
    Musrembang Kecamatan Pangururan di Aula HKBP
    Berjalan lancar dihadiri 200 orang
    22
    Jumat/ 26 Februari 2010
    Mendampingi Bupati dalam Rangka Pesta Bona Taon Malau di Rianiate
    Berjalan dengan lancar
    23
    Sabtu/ 27 Februari 2010
    - Undangan RATCUDAME di Terminal yang dihadiri Bupati
    - Rapat di Desa Parsaoran I tentang pergantian BPD
    Berjalan lancar
    Dihadiri masyarakat dan lembaga-lembaga yang ada


    TAROMBO NI RAJA SITANGGANG

    1. RAJA SORIMANGARAJA
    v Raja Sorimangara mempunyai 3 ( Tiga ) Orang anak yaitu :
    1. Raja Asi – asi
    2. Raja Isumbaon
    3. Guru Tatea Bulan
    v Raja Isumbaon mempunyai 3 ( Tiga ) Orang anak yaitu :
    1. Tuan Sorbadijulu
    2. Tuan Sorbadijae
    3. Tuan Sorbadibanua
    v Tuan Sorbadijulu mempunyai 1 ( Satu ) Orang anak yaitu Datu Sindar Mataniari/ Suliraja/Raja Naiambaton
    v Anak dari dari Datu Sindar Mataniari/ Suliraja/ Raja Naiambaton ada 4 ( Empat ) yaitu :
    1. Anak dari Isteri Pertama ( I ) yaitu :
    1)

    Kembar
    Si Boru Pinta Haumasan
    2) Guru So Dundangon
    3) Raja Sitempang/ Raja Natanggang
    1. Anak dari Isteri kedua ( II ) yaitu :
    1) Raja Nabolon
    Raja Sitempang/ Raja Natanggang mempunyai kehidupan yang unik, banyak versi Legenda yang dapat didengar secara turun temurun dari mulut kemulut. Lahir dalam keadaan cacat, dimana kedua kakinya dempet dengan berjalan hanya tujuh ( 7 ) Jari. Untuk menghilangkan rasa malu dari Orang Tuanya dia diasingkan disuatu Pondok dekat tala – tala di Huta Pusuk Buhi. Pada waktu yang sama ada seorang wanita yang juga diasingkan oleh Orang Tuanya, Silahisabungan bernama Siboru Marihan. Siboru Marihan dengan wajah dan tubuh Manusia tetapi kakinya seperti seekor ikan (seperti Putri Duyung). Itulah sebabnya Dia diasingkan dari keluarganya dan dimasukkan ke tala-tala oleh Orang Tuanya Silahisabungan dengan harapan kalu Dia manusia akan mati, tetapi kalau Dia Ikan Dia akan hidup, ternyata Dia hidup, tetapi Dia bukanlah Ikan. Tapi memang aneh bila Dia bukan Manusia mengapa Dia dapat hidup di dalam air ? hal ini lah yang membuat Orang Tuanya menjadi heran dan merasa takut dan Dia diasingkan ke suatu Pondok dekat tala-tala dihuta Pusuk buhit. Kedua orang ini akhirnya bertemu dan menikah setelah melalui proses yang ajaib dan melahirkan seorang anak yang bernama Raja Hatorusan. Tetapi sebelum menikah mereka membuat suatu janji ataupun padan agar Raja Natanggang berjanji untuk tidak mengatakan kepada siapapun bahwa Dia adalah Manusia Ikan. Tetapi ternyata janji ini dilanggar oleh Raja Natanggang yang mengakibatkan mereka serta anaknya berpisah dan tidak pernah bertemu lagi. Raja Hatorusan keluar darii daerah Sianjur Mula mula.
    Salah satu mitos yang berkembang sampai saat ini adalah meletusnya gunung Toba yang menghasilkan Danau Toba dan Gunung Pusuk Buhit sekarang, adalah akibat pengingkaran Janji oleh Raja Sitempang/ Raja Natanggang. Raja Sitempang selamat dari bencana alam dan dalam perjalanannya ( Pengembaraannya ) suatu ketika bermimpi dimana ia disuruh pergi ke suatu daerah dimana banyak tumbuh rumput yang bernama samo-samo ( Samo-samo adalah rumput makanan ternak (Kerbau). Akhirnya sampai di daerah Tanjung Bunga sekarang, tergelincir dan yang membuat kakinya yang dempet menjadi terpisah. Akan tetapi lain halnya cerita lain yang mengatakan karena senangnya setelah sampai di daerah samo-samo tersebut karena melihat samo-samo yang sir-sir, Ia menari-nari dengan melompat-lompat dengan kakinya yang dempet dan seketika itu pula kakinya terpisah dan Ia menjadi manusia normal kembali kemudian membangun rumahnya di daerah itu. Konon menurut hikayatnya daerah itu kemudian dinamai SAMOSIR, karena di daerah samo-samo tersebut semua sir-sir (sirsir artinya semua tersedia). Oleh karena itu, asal kata samosir adalah dari kata samo samo na sirsir.
    Setelah Raja Sitempang tinggal menetap mempunyai huta ( di Pangururan sekarang ), dia menikah dengan Boru Porti Mataniari, dan kemudian lahirlah anaknya yang diberi nama RAJA NATANGGANG ( RAJA PANGURURAN ). Raja Sitempang/ Raja Natanggang mewariskan kerajaannya kepada anaknya Raja Natanggang yang dikenal dengan nama Raja Pangururan.
    Raja Panungkunan dikenal juga dengan nama Raja Tanjabau yang kemudian dikenal dengan nama Sitanggang Bau, mempunyai 2 ( dua ) orang anak yaitu :
    1. Raja sitempang ( kembali mengambil nama Oppungnya )
    2. Raja Tinita
    Raja Sitempang I kemudian mengangkat anak yang tadinya marga Sijabat dan diberi nama Gusar, marga ini kemudian dikenal dengan Nama Sitanggang Gusar.
    Raja Pangadatan mempunyai 3 ( Tiga ) Orang anak yaitu :
    1. Raja Sitanggang Lipan
    2. Raja Sitanggang Upar
    3. Raja Sitanggang Silo
    Raja Sitanggang Silo mempunyai 3 ( Tiga ) orang anak yaitu :
    1. Mangilang Bosi/ Silo
    2. Sitabi Dalan/ Simanihuruk dan
    3. Salapsap Bosi/ Sidauruk
    Raja Pangulu Oloan mempunyai 1 ( Satu ) orang ank yang bernama : Sigalingging
    1. IPAR – IPAR NI PARTUBU
    Raja Sitanggang/ Raja Pangururan adalah anak dari Raja Sitempang/ Raja Natanggang, dan Raja Simbolon adalah anak dari Raja Nabolon. Keberadaan Raja Sitempang/ Raja Natanggang sejak awal sudah bermasalah dan Ia diasingkan Orang Tuanya Ke Tala – tala Pusuk Buhit dan dianggap tidak ada lagi. Tetapi ternyata dikemudian hari Ia muncul dan dalam keadaan Normal yang membuat suatu kenyataan yang sulit diterima oleh akal sehat. Pada hal; selama Raja Sitempang/ Raja Natanggang berada dipengasingan Raja Simbolon sudah sempat dianggap siangkangan, sehingga status siapa siangkangan menjadi rumit ditentukan karena Raja Simbolon sudah terlebih dahulu menikah dengan boru siangkangan dari Naibaho dimana kemudian Raja Sitanggang / Raja Pangururan menikah dengan boru Naibaho adik dari Isteri Raja Simbolon.
    Tona dari Raja Naiambaton : “ Di Hamu sude pinomparhu na mamungka huta di Desa naualu di Tano Sumba, di na manjunjung baringin ni Raja Isumabon. Partomuan ni aek Partomuan ni hosa. Mula ni jolma sorang. Asa tonahonma tonangkon tu ganup pinomparmu ro di marsundut-sundut, asa sisada anak, sisada boru hamu sisad lungun, sisada siriaon, naunang, natongka, naso jadi marsibuatan hamu pinompar muna manjunjung goarhu Si Raja Nai Ambaton Tuan Sorba di Julu Raja Bolon.
    Asa ise hamu di pomparhu namangalaosi tonangkon, tu hamuma I sitabaon, tu tao ma I sinongnongon, tu harangan mai situtungon”.
    Khusus untuk Raja Sitanggang dan Simbolon di PADAN hon sebagai berikut : Di Ho ale Pimomparhu Raja Na Tanggang gelar Raja Pangururan na Manean huta ni Daompung si Raja Isumbaon dohot ho ale Raja Nabolon namanean goarhu Raja Bolon Sian Tano Sumba Pangurura, asa tonahonon muna tonakon tu saluhut siminithu/ Pinomparhu rodi marsundut-sundut di desa na ualu di Tano Batak. Asa rap siahaan mahamu rap sianggian; rap di jolo rap si Raja Baung di Pomparan ni Si Raja Naiambaton.
    Asa tonahononhu ma tu saluhut Raja Adat, Raja Bius, suang songoni tu angka Raja Parbaringin, Datu Bolon dohot Si Baso Bolon di Tano Sumba asa rap Siahaan ma hamuna du diparadaton, dipartuturan siapari, di tarombo, dihorja adat.
    Di Parjambaran ni horbo bius dohot adat, dipanjambaran Adat Dalihan Natolu asa sahali manjou ma goarmu na, du hali manggora dohot tangan na dua na martaripar, Natanggang-Nabolon, Nabolon-Natanggang. Asa ruhut ni panjouon di ulaon adat, IPAR IPAR ni Partubu nami Raja Nabolon; songoni ma nang Raja Nabolon manjou IPAR-IPAR ni Partubu nami Raja Natanggang. Asa ruhut dipartuturon siapari, na parjolo tubuma siahaan, parpudi tubu sianggian.
    Molo so diingot ho hata nidok ima namanggose, molo lupa di tona ima na manguba. Asa ho ale Raja Nabolon-Raja Natanggang asa tonahononmuna ma tupinomparmu asa unang adong namangose namanguba tonangki.
    NAIBAHO juga akhirnya turun tangan untuk mengatasi kemelut bere/ helanya dan mengatakan :
    Di Berengku Sitanggang-Simbolon, Di Helangku Simbolon-Sitanggang, Tonahon hamu ma tonangkon tu saluhut Pinomparmu rodi marsundut – sundut di Tano Batak dohot tu sude na adong di desa na ualu. Asap rap siahaan ma hamu rap sianggian. Rap Rajai jolo, rap Raja i pudi.
    Ditonga – tonga ni Raja Adat, Raja Bius Suang songoni dohot dijolo ni angka Raja Parbaringin datu bolon dohot Sibaso Bolon, Siada Tulang mahamu, hami namarbere, di Namarsimatua hamu hami namarhela.
    Asa rap siahaan mahamu rap sianggian di Paradaton, di Partuturan siapari ditarombo dohot diadat.
    Asa Molo panjouan ni Adat Dlihan Natolu, sahali manggorahon ma Goarmu nadua dohot dua tangan na mar taripar “Na Tanggang-Na Bolon” {SITANGGANG-SIMBOLON}. Panjouan di adat, IPAR IPAR NI PARTUBU MA HAMU, HOMBAR TU PARTUBU MU DOHOT DI PANGOLIANMU.
    Asa molo di ose hamu on sega ma hamu jala molo diingot hamu on, na gabe ma hamu, rodi di Pinompar mu saluhut saur matua.
    On ma bangun bangunan di hamu helangku, borungku na dua :
    “MARNINI MARNONO OMPU SANGGAR NIHUTA,
    MARANAK MARBORU SITANGGANG-SIMBOLON NA SADA
    ALAI DUA, GABE JALA HORAS SAHAT TU NA SAUR MATUA,
    SONGON I DI AMANA DOHOT PINOMPARNA, NA TANGI DIPADAN DOHOT HATA NI NATUA TUA”.
    Secara Khusus akhirnya Sitanggang dan Simbolon membuat komitment/ pati-patian sebagai berikut :
    Songgar tolong baringin jabi-jabi
    Sitanggang Simbolon sisada urdot sisada tahi
    Dengke ni Sabulan tonggi jala tabo
    Manang ise si ose padan, turipur na tumagona
    Apabila diterjemahkan secara bebas arti dari TONA – PESAN tersebut adalah :
    Sitanggang – Simbolon sama-sama si Abangan sama-sama siadikan.
    Dalam acara Adat Pemanggilan dari Sitanggang dan Simbolon adalah IPAR-IPAR ni Partubu.
    Penyerahan Jambar diserahkan bersamaan dengan memanggil keduanya Sitanggang dan Simbolon dan dengan menyilangkan tangan.
    3. SITANGGANG BUKAN ANAK DARI MUNTHE
    Diatas telah diuraikan bahwa Sitanggang adalah keturunan dari Raja Sitempang/ Raja Natanggang, Sitanggang bukanlah anak dari Munthe sebagaimana telah ditulis oleh beberapa penulis Tarombo yang dimulai dengan Tulisan W. M. Hutagalung tahun 1926 (POESTAHA taringot toe tarombo ni Bangso Batak na Pinatoere ni W. M. Hoetagaloeng-rongkoman I-1926). Tulisan ini dipakai beberapa Penulis sebagai Refrensi. Tulisan ini memang belum pernah dibantah oleh Keturunan Marga Sitanggang, inilah saatnya untuk meluruskan Tarombo tersebut sekaligus menyatakan bahwa apa yang ditulis oleh Hutagalung tersebut dan kemudian oleh penulis berikutnya pun tetap salah. Perlu diketahui bahwa W. M. Hutagalung pada waktu menulis Tarombo tersebut adalah ASISTEN DEMANG DI PANGURURAN, yang seharusnya tahu persis bahwa Marga Munthe tidak ada di Pangururan, maka kesimpulannya bahwa apa yang telah ditulis oleh W. M. Hutagalung tentang Tarombo ni Marga Sitanggang yang berasal dari Marga Munthe adalah Bualan Belaka atau Karangan yang mengada-ada tampa Bukti Kuat.
    Sebagai Fakta yang menguatkan bahwa Sitanggang adalah keturunan Raja Sitempang/ Raja Natanggang anak dari Datu Sindar Mataniari/ Suli Raja/ Raja Nai Ambaton adalah :
    a. Raja Natanggang/ Raja Pangururan
    Nama Raja Natanggang yang juga disebut Raja Pangururan, perobahan nama ini adalah karena setelah huta yang dibangun Raja Sitempang berkembang, banyak orang yang datang berdagang dan keperluan lainnyake huta tersebut.
    Raja Sitempang membangun PARTUNGKOAN yaitu tempat berkumpul layaknya seperti kedai atau Lapo saat ini. Lapo ini juga berfungsi sebagai tempat berjudi. Menurut cerita, tak pernah pendatang menang berjudi di Partongkoan ini, sehingga menjadi buah bibir setiap pengunjung dan menyatakan tempat itu PANG-URUR-AN, karena setiap berkunjung ke tempat itu selalu mang – urur – i, selalu kehabisan uang atau kekurangan Uang, kadang-kadang pulang hanya dengan pakaian yang melekat di tubuhnya saja. Dan Akhirnya Raja Sitempang/ Raja Natanggang mewariskan Kerajaanya pada Anaknya Raja Natanggang, jadilah Raja Natanggang pemilik partongkoan tersebut diberi gelar nama menjadi RAJA PANGURURAN, yang punya Huta dan tentu saja yang menjadi Raja Huta.
    b. Bius Sitolu Hae Horbo
    Bius Pangururan disebut Bius Sitolu Tali yang kemudian berubah nama menjadi Bius Sitolu Hae Horbo. Disebut Tolu Hae karena yang memiliki harajaon adalah tiga Marga yaitu : Sitanggang, Simbolon dan Naibaho. Apabila ada acara, maka masing-masing marga ini dapat sakhae dari kerbau yang disembelih. Konon katanya, hae keempat ditanam dibatu mamak. Kemudian dalam perkembangannya hae keempat diberikan kepada pargonsi. Ternyata marga Munthe tidak mempunyai atau tidak memiliki bius di Pangururan ( Bius Munthe tidaka ada di Pangururan ).
    c. Aek Parsuangan
    Di salah satu sisi di Gunung Pusuk Buhit, ada 3 (Tiga) mata air yang disebut Aek Parsuangan. Pemilik dan nama mata air itu berturut-turut dari atas kebawah adalah : Naibaho, Sitanggang dan Simbolon.
    4. TAROMBO NI RAJA SITANGGANG DI DALAM BAGAN
    Raja Natanggang/ Raja Pangururan mempunyai 3 (Tiga ) orang anak, yaitu :
    1. Raja Panungkunan
    2. Raja Pangadatan
    3. Raja Panghulu Oloan
    5. Penomoran
    Pendekatan penomoran dapat dengan dua cara yaitu :
    1. Menurut Generasi
    2. menurut pada yang menurunkannya.
    6. Panjouan di Ulaon
    1) Ulaon Raja Sitempang ( Raja Sitanggang Bau )
    Dipanggil pertama Raja Tinita, kemudian Sitanggang Gusar, setelah itu dilanjutkan memanggil Sitanggang Lipan, Sitanggang Upar, Sitanggang Silo, Simanihuruk, Sidauruk dan Sigalingging.
    2) Ulaon di Raja Tinita
    Dipanggil Pertama Sitanggang Bau Raja Sitempang, kemudian Sitanggang Gusar. Setelah itu dilanjutkan memanggil Sitanggang Lipan, Sitanggang Upar, Sitanggang Silo, Simanihuruk, Sidauruk dan Sigalingging.
    3) Ulaon di Sitanggang Gusar
    Dipanggil pertama Sitanggang Bau Raja Sitempang, kemudian Raja Tinita, setelah itu dilanjutkan memanggil Sitanggang Lipan, Sitanggang Upar, Sitanggang Silo, Simanihuruk, Sidauruk dan Sigalingging.
    4) Ulaon di Raja Sitanggang Lipan
    Dipanggil pertama Sitanggang Lipan, Sitanggang Silo, Simanihuruk dan Sidauruk. Setelah itu dilanjutkan memanggil Sitanggang Bau Raja Sitempang, Raja Tinita, Sitanggang Gusar dan Sigalingging.
    5) Ulaon di Raja Sitanggang Upar
    Dipanggil pertama Sitanggang Lipan, Sitanggang Silo, Simanihuruk dan Sidauruk. Setelah itu dilanjutkan memanggil Sitanggang Bau Raja Sitempang, Raja Tinita, Sitanggang Gusar dan Sigalingging.
    6) Ulaon di Raja Sitanggang Silo
    Dipanggil pertama Simanihuruk, Sidauruk, Sitanggang Lipan dan Sitanggang Upar. Setelah itu dilanjutkan memanggil Sitanggang Bau Raja Sitempang, Raja Tinita, Sitanggang Gusar dan Sigalingging.
    7) Ulaon di Raja Simanihuruk
    Dipanggil pertama Sitanggang Silo, Sidauruk, Sitanggang Lipan dan Sitanggang Upar. Setelah itu dilanjutkan memanggil Sitanggang Bau Raja Sitempang, Raja Tinita, Sitanggang Gusar dan Sigalingging.
    8) Ulaon di Raja Sidauruk
    Dipanggil pertama Sitanggang Silo, Simanihuruk, Sitanggang Lipan, dan Sitanggang Upar. Setelah itu dilanjutkan memanggil Sitanggang Bau Raja Sitempang, Raja Tinita, Sitanggang Gusar dan Sigalingging.
    9) Ulaon di Raja Sigalingging
    Dipanggil pertama Sitanggang Bau Raja Sitempang, Raja Tinita dan Sitanggang Gusar. Setelah itu dilanjutkan memanggil Sitanggang Lipan, Sitanggang Upar, Sitanggang Silo, Simanihuruk dan Sidauruk.
    1. Raja Parhata/ Parsinabul
    Molo ulaon dihahana, anggina parsinabul. Itu adalah prinsip yang baku disemua marga. Untuk marga Sitanggang perlu ada Fleksibilitas tingkat sisada ulaon, apalagi namaralaman.
    Raja Panungkunan, Raja Pangadatan dan Raja Pangulu Oloan adalah marhaha maranggi sehingga salah satu diantara merekalah gantian yang menjadi parsinabul.
    Dibeberapa tempat yang populasinya sudah cukup besar, sesama Raja Panungkunan atau sesama Raja Pangadatan atau sesama Raja Pangulu Oloan sudah boleh menjadi Parsinabul. Bahkan ke tingkat yang lebih rendah seperti yang terlaksana di BONA PASOGIT.

    Pangururan, Pebruari 2008


Top