Orang Kaya yang Bodoh

Samosirku,

BERJAGA-JAGALAH DAN WASPADALAH TERHADAP SEGALA KETAMAKAN
Khotbah Minggu hari ini oleh : Pdt. JM. Sinaga, Pimpinan Sidang GPI (Gereja Pentakosta Indonesia) Pangururan.
Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Luk 12:13-21).
Bacaan Pertama: Pkh 1:2; 2:21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Kol 3:1-5.9-11.
Ada seseorang yang baru ribut-ribut soal harta warisan dengan saudaranya dan dia kemudian meminta kepada Yesus, sang rabi jalanan, untuk melakukan intervensi atas namanya. Orang itu yakin sekali akan keadilan dari klaimnya dan tahu bahwa Yesus seringkali menolong orang-orang, oleh karena itulah dia minta agar Yesus campur tangan dalam perkaranya agar keadilan dapat diwujudkan.
Namun jawaban Yesus mengejutkan orang itu: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” (Luk 12:14). Lalu Yesus melanjutkan: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu: (Luk 12:15). Jadi, bukannya memenuhi hasrat hati orang itu untuk menjadi pengantaranya, Yesus malah mengeritik sikap orang itu terhadap kekayaan dan Dia mengingatkan orang banyak yang sedang mendengarkannya untuk tidak meniru contoh orang ini.
Sepanjang bab/fasal 12 kitab Injilnya, Lukas telah menunjukkan macam-macam oposisi – dari dalam maupun dari dalam – yang akan dihadapi oleh para murid Yesus yang mencoba untuk mengikuti jejak-Nya dengan setia. Dalam hal keuangan, Yesus mengajar mengenai hubungan dan sikap yang pantas terhadap uang. Dalam menggaris-bawahi dua hal: (1) Jangan biarkan uang atau kepemilikan memikat serta menjerat anda ke dalam ‘rasa aman yang palsu’ (bahasa kerennya: false sense of security), dan (2) satu-satunya kekayaan sejati adalah yang bersifat kekal dan membawa kita ke surga. Untuk mengilustrasikan hal ini, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang kaya.
Orang kaya dalam perumpamaan itu bukannya tidak kompeten, malah kemungkinan besar dia adalah sumber iri hati para tetangganya. Dia adalah seorang yang memiliki kemampuan. Dia memiliki tanah yang berlimpah-limpah hasilnya. Karena hasil panen yang berlimpah-limpah itu maka orang ini memutuskan untuk membangun kembali lumbung-lumbungnya agar dapat memuat timbunan barang-barangnya. Sepanjang pengetahuan orang itu, tindakannya dengan efektif dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya untuk beberapa tahun ke depan, dengan demikian dia pun menikmati suatu rasa puas dan aman.
Akan tetapi apa boleh buat, maut datang seperti seorang pencuri … pada malam harinya dia pun mati. Dalam perumpamaan dia disebut ‘bodoh’ karena membuat kekeliruan besar dengan berpikir bahwa dia telah menjamin masa depannya apabila dia memperkuat status ekonominya. Dia ‘bodoh’ karena telah dibutakan oleh capaian-capaiannya sendiri [Catatlah, bahwa dalam Luk 12:18-19 tercatat perkataan ‘aku’ dan variasinya, sebanyak 8 kali]. Orang kaya ini mengabaikan serta melupakan hasrat-hasrat Allah dan kebutuhan-kebutuhan sesamanya, sehingga dia “tidak kaya di hadapan Allah”.[1] Dia lupa apa yang sesungguhnya penting bagi keselamatan dirinya.


No comments:

Write a Comment

Mohon Komentar yang diberikan tidak berbau SARA dan Penghinaan. terima kasih


Top