Takdir dan Kenyataan

Cerpen Binoto H Balian Silakan Simak!
Dimuat di Riau Pos Silakan Kunjungi  Situsnya! 11/02/2002 Telah Disimak 598 kali

HAMPIR mengeras kaki ini dan kebas sekujur badan seperti dalam mimpi telusuri arah hampa di luar sadarku menembus remang pucatnya bulan sabit malam itu, mataku seakan memandang kosong tanpa gairah tak berkedip di celah-celah samarnya dedaunan yang tersangkut di ranting pepohonan di sekitarku, sesekali menggodaku dengan kibasan dinginnya di jalur sempit dalam perjalananku menuju ketidakpastian yang sedari tadi memandu langkahku. Namun mulutku yang selalu saja mencemari kesucian kehidupku hanya terus mengoceh seperti kesetanan mengutuk lalu setiap sisi pandang yang kulalui di jalan setapak itu. Kumaki segundukan masa lalu yang telah mewarnai otakku, kusesali serentetan kenyataan yang telah dimahkotakan oleh sang penoreh takdir di ronggaku yang seperti halimun dan tak lagi bergayang wujudku. Juga kenyataan yang telah tersinggah kepada seorang yang telah menjadi korban ketidakadilan kenyataan tersebut yakni sebuah peristiwa yang telah terjadi jauh sebelum aku mengenalnya sebagai seorang yang istimewa dihatiku ternyata telah mengusikku dan mencongkel dinding selaput otakku, meramu bumbu emosi di syaraf logisku yang selama ini sehalus perasaan terhalus yang telah dimasuki sosoknya. Entah kenapa pada malam sewaktu aku bersama dengannya, trauma itu serta-merta menggoncang kuat kesabaranku dan tiba-tiba perasaanku gersang. Sesuatu menggerayangi ragaku yang mengejang merah padam. Marah dan segalanya seketika berubah seperti hamparan neraka, sekitarku disesaki emosi dan dendam yang membanjiri ruang teras dormitori tempat dimana aku sejak tadi sore duduk bersama dengannya. Dengan brutal kumaki sosok sayu yang telah menemaniku sedari tadi dengan celutuk sekasar iblis terus mengghunjami perasaannya yang terlanjur kucabik-cabik. Akh.., penat seakan mau meronta melepaskan kekuatan kotor yang telah mengkontaminasi di otak putihku. Hingga pada puncak emosi yang tak tertahan lagi, ragaku seperti telah ditinggalkan oleh zat kemanusiaanku. Suasana makin panas seperti membakar gerah sekitar. Aku lalu bergegas meninggalkan ketegangan itu berlari menempuh gelap malam. Sejenak lamunanku kabur setengah sadar ketika dikejutkan suara seekor kucing putih yang mengeong berada tepat tak jauh di depanku. Tanpa ada rasa was-was ataupun takut dibenakku, lalu aku mengikutinya yang seperti menemani perkelanaanku. Walaupun malam sudah kian menyelimuti, tapi bulan muda itu menggantung di leher kegelapan dan masih sanggup menyusup di celah dedaunan menyinari kelok-kelok jalan setapak yang belum kuketahui ke mana ujungnya itu. Di sepanjang jalan itulah lankahku pasrah menjelajah akibat kenyataan masa lalu serta dendam yang terus merasukiku dan memaksaku menjelajah mencoba buang rasa penat yang ada. Hati masih hampa hambar tak berasa terus mendengungkan curiga dan ketidakpercayaan pada yang ada juga pada bumi yang telah merawatku semenjak lahirku serta pada guliran tarikh yang tidak adil memperlakukanku. Mengapa harus padaku ketidakadilan ini dititipkan? Lagi-lagi pergolakan jiwaku terusik buyar ketika sesuatu terassa menyandung di kakiku dan mengait tali kasut yang kupakai saat itu. Ternyata akar-akar pohon menjalar di permukaan tanah yang telah bersemak lalang, tapi kucing putih tadi tidak pernah lepas dari pandanganku dan terus kubuntuti. Namun tanpa kusadari, kucing itu telah mengalihkan arah arah jelajah hampaku ke arah yang lain yaitu ke sebuah tempat yang sama sekali belum pernah kujumpai sebelumnya. Pohon-pohon tegak berdiri, rapat dan besar-besar batangnya hampir menyerupai rimba yang masih perawan. Gelap mendesakku, hanya cahaya bulan yang sudah tepat di atas kepala yang masih jelas terlihat menyinari gerak-gerik dan tingkah laku kucing putih yang membuatku penasaran itu. Udara semakin dingin ditebari butir-butir embun malam yang menyusupi kulitku kian menusuk tulang. Dengan sisa-sisa penasaran dan kepasrahanku kuamati arah kucing tersebut kemana dia akan membawaku nanti. Sementara itu kesadaran dan kemanusiaanku terasa sudah kembali ke ragaku yang sedari tadi dirasuki ketidaktenangan ketika kurasakan darahku hampir beku dan sekucur tubuh menggigil. Alangkah terkejutnya aku setelah mengetahui dimana diriku berada saat itu. Saya mulai merasakan ketakutan yang begitu dahsyat. Jantungku berdegup tak lagi beraturan. Rasanya aku ingin secepatnya meninggalkan tempat yang sangat seram itu. Sebuah belantara yang sangat gelap. Aku tersesat. Kemudian teringat lagi penggalan-penggalan pertengkaranku tadi dengan seorang gadis yang tertindas kibasan egoisku. Aku menyesalinya sekarang, tapi dari mana aku bisa keluar, sementara malam makin meninggi. Kucing tadi dimana?, gumamku mencoba cari tahu. Kuamati sekelilingku, lalu pandanganku terbentur pada sebuah keanehan yang tidak masuk di akal. Sebuah gubuk gua. Ditengah hutan seperti ini? Kudekati dengan rasa takut yang menyergapku. Kumasuki gubuk itu yang ternyata tidak mempunyai atap dan tak satupun daun pintu-jendelanya yang utuh. Hanya dinding anyaman bambu yang nampak sudah hampir rapuh. Cahaya bulan pucat malam itu memberikan kesan menakutkan malam itu. Saat itu bulan tepat menyinari sosokku di dalam gubuk tak beratap itu. Dalam posisi berdiri aku terpaku memandangi langit menerawang mencari akal. Entah mengapa jantungku semakin berdegup kencang, lututkupun gemetaran dan seketika saja mataku nanar ketika sekonyong-konyong embun hitam menyeruak berputar turun dari langit itu seperti menyerangku. Dan makin dekat menancap menggemuruh dan... *** ‘’Hei anak muda, nampaknya kamu orang baru disini ya?’’ Seseorang menegurku ketika aku berjalan-jalan menyusuri sebuah perkampungan dari pintu rumahnya sambil asyik membaca koran di tangannya. Kuamati wajah dan pakaiannya berwarna pucat serba putih. Pekarangan rumahnya juga sepertinya tak ditumbuhi apa-apa, kecuali hanya selembar papan bertulis sebuah nama tertancap dihalamannya. Gersang memang tempat perkampungan ini, hanya rumah-rumah mungil berukuran 2 x 2 meter yang tersusun acak di perkampungan yang mirip padang gurun itu. ‘’Benar, Pak, aku memang tersesat tadi malam. Dan tidak tahu jalan menuju ke rumahku. Gelugur adalah nama kampungku. Apa bapak tahu jalan ke sana?’’ tanyaku dengan penuh harap. ‘’Kamu terus saja lurus ke sana tepat diseberang bangunan panjang itu,’’ tutur bapak misterius tadi sambil dengan nada dingin geleng-geleng kepala. Disepanjang jalan aku kok jarang bertemu penduduk kampung ini ya, padahal ada sekitar ratusan rumah berjejer di sini. Aneh memang, sepi seperti kota mati saja, gumamku. Dari samping bangunan panjang seperti tanda yang diberikan orang tadi, aku melihat perkampungan seberan. Dan dari sebuah rumah yang hampir sama bentuknya itu terlihat seseorang berlari-lari kecil seperti menyambutku melambaikan tangannya. Setelah makin dekat, dia menyapa: ‘’Panji, panji..apa yang membawamu sampai ke tempat ini kawan?’’ ‘’Mortal, bukankah dia sudah meninggal dua tahun yang lalu? Apakah aku sedang bermimpi.’’ Batinku sambil mengamatinya setengah tidak percaya. Kugigit lidahku dan pedih kurasakan. Ini memang benar-benar kenyataan, tapi kenyataan apakah ini gerangan. ‘’Selamat datang di perkampungan ‘penantian’,’’ ucapnya seraya memelukku. Dia seperti meneteskan airmata di pundakku. Disinilah rumahku diberikan sang penguasa lembah ‘penantian’ ini setelah dulu aku mati bunuh diri dan rupanya kematianku belum waktunya dipanggil oleh sang penoreh takdir. Juga kawan-kawan kita yang lain seperti si Rozak yang mati dibakar massa, Talen yang mati diperkosa, si Ali yang mati disantet dan rombongan anak-anak SMA kita dulu yang mobilnya masuk jurang. Dan disitulah rumah-rumah mereka diletakkan satu perorang. Tapu rumahmu Panji, sepertinya belum ada disini nampaknya. Apa kamu matinya secara wajar? Tapi kenapa kamu kok singgah di kampung penantian ini. ‘’Mortal mulai heran melihat kehadiran aku di tempat tersebut. Dipandanginya wajah aku secara seksama. ‘’Dan bajumu, kenapa belum putih seperti kami di sini?’’ Aku sepertinya tak dapat berbicara apa-apa lagi dan merasa terperangkap sekat fana di balik kenyataan alam penantian ini. Tapi kenapa aku bisa tercampak ke sini. Logikaku seperti tak sanggup menembus dimensi maya ini. Mortal semakin curiga dengan kehadiranku di sana. ‘’Apa kau masih hidup, Panji? Ya..aku yakin kamu masih hidup dan mungkin secara tidak kau sengaja kau masuk ke dunia kami dan buktinya matamu masih bercahaya, bajumu juga kulitmu masih berwarna. Kita harus cepat berbuat sesuatu sebelum penguasa lembah penantian ini akan mencium bau darahmu nanti dan memakanmu.’’ Lalu aku dibawa masuk ke dalam rumahnya di lembah penantian itu. *** Setelah aku menuturkan semuanya pada Mortal, diapun akhirnya mengerti. ‘’Hanya ada satu jalan untuk keluar dari tempat ini dan kamu harus bergegas paling lambat hari kedua dari lembah ini. Dan tempat tersebut terletak persis di pinggir sebelah kanan perkampungan ini berupa telaga kecil yang ditengahnya ada pusaran air yang begitu kencang berputar. Maka untuk bisa kembali ke alam manusia, kamu harus menyeberanginya sebelum besok pagi. Dan pesanku yang selalu harus kamu ingat setelah nanti sampai dialammu, kamu harus waspada pada pengaruh suruhan penguasa lembah penantian ini yang akan selalu merayu dan menghasutmu untuk membenci sesamamu juga kekasihmu dan pesuruh-pesuruhnya akan berusaha membuatmu menyesali setiap kenyataan dan takdir yang kau terima. Setelah itulah kau akan dirayunya untuk membunuh perasaan, cinta dan logikamu serta membunuh dirimu agar bisa menjadi pengikutnya. Karena itulah kebiasaan penguasa lembah penantian ini. Pergilah Panji! Aku akan melepasmu di tepian telaga ini. Terimalah takdirmu sebagai karya terindah dan kenyataan sebagai lambang keabadian di kehidupanmu.’’ Akhirnya aku merenangi telaga itu dengan penuh perjuangan melawan arus pusaran di tenah telaga itu. Dan sebelum hari kedua dilembah penantian itu aku sudah berhasil menyeberang. Kembali mataku nanar, seluruh tubuhku mengejan, hitam....dan lalu semuanya terlupa. *** ‘’Sudah seminggu bang Panji menghilang, dan dicari kemana-mana abang juga belum ditemukan. Hingga tadi pagi abang ditemukan dengan tubuh berlumur lumpur dan dalam keadaan tidak sadar didekat waduk kampus kita. Abang dari mana saja, sih dan apa yang telah terjadi?’’ ujar Laras setelah aku terjaga dari tidurku yang sangat letih. ‘’Aaa..., aku kembali? yah.. aku baru saja kembali dari lembah penantian untuk mencari tahu tentang arti takdir dan kenyataan yang selama ini kusesali.’’***


No comments:

Write a Comment

Mohon Komentar yang diberikan tidak berbau SARA dan Penghinaan. terima kasih


Top