Sastrawan Samosir

Puisi : Binoto Hutabalian

Rahim yang masih menengadah

Diantara tubuhku dan gumpal-biru

Doa-doamu

Tangis guling dan kemaraunya paraduan

Tercium kian menguapkan apek waktu

Yang amat menyengat

Lelaki empedu dan aku memakukan

Lukaku letak digumpal bayangan es-mu

Sebagai pertanda kalau aku sudah resmi menjadi abu

Rembulan berlumut di atap pesisir,

Tubuh duluku dikerubungi desis-sunyi

Yang diriasi malas segumpal purnama

Yang melenggok centil persis di kelopak Mataku,

sebab disana-sini angin melebihi Rinding

remang serta jam yang mengkokokkan

Desahan rawan mirip dedebar kepak keluang

Yang tiada peduli kalau kakiku letih tertanam

Di penambatan dermaga

reok menatap lahap Ke gerbang laut,

menunggu tugu sepiku Hanyut

lagi ke purusan arus jam yang

semakin kejam Manghantam-hantam


No comments:

Write a Comment

Mohon Komentar yang diberikan tidak berbau SARA dan Penghinaan. terima kasih


Top