Bakar Gereja, 2 Warga Malaysia Dibui 5 Tahun

samosirku,
Kuala Lumpur,
Pengadilan Malaysia menjatuhkan hukuman penjara masing-masing lima tahun kepada kakak-beradik yang terbukti menyulut api di sebuah gereja. Aksi keduanya ini berkaitan penolakan warga Muslim Malaysia atas penggunakan kata “Allah” oleh sebuah penerbitan milik umat Kristiani.
Aksi mereka merupakan insiden pertama yang terjadi dalam rangkaian aksi pembakaran dan vandalisme yaang dilakukan atas tempat-tempat ibadah Januari lalu yang mengancam keharmonisan keagamaan di negara mayoritas Muslim. Sebanyak 11 gereja, sebuah kuil umat Sikh, tiga masjid dan sebuah mushalla turut dibakar dalam kejadian ini.
Dua kakak beradik berusia 20-an tersebut ditangkap dan langsung diadili pada 8 Januari lalu. Mereka menentang sebuah publikasi warga Kristen yang menggunakan “Allah” sebagai pengganti kata Tuhan dalam koran terbitan pihak Gereja. Demikian dilansir Associated Press, Jumat (13/8).
Hakim wilayah Kuala Lumpur Komathy Suppiah mendakwa mereka sebagai tersangka pelaku pembakaran disengaja dengan maksud merusak sebuah tempat peribadatan. Mereka dihadapkan pada ancaman penjara maksimum 20 tahun, namun pada akhirnya hakim memutuskan untuk memberikan mereka hukuman penjara lima tahun.
“Kalian telah membuat malu masyarakat dan negara. Pesan dari pengadilan ini harus didengar dan jelas. Jangan bermain dengan api,” ucap Suppiah saat membacakan vonis. Akan tetapi hakim mengijinkan mereka bebas dengan jaminan sambil menunggu sidang banding mereka digelar.
Kedua tersangka sendiri sebelumnya mengaku tidak bersalah. Mereka bersaksi sedang berada di restoran saat mendengar beberapa orang berencana untuk melakukan aksi pembakaran. Keduanya mengaku sedang melewati gereja saat melihat beberapa orang tidak dikenal menghancurkan jendela dan kemudian menyulut api dari gereja Metro Tabernacle di Kuala Lumpur, Januari lalu.
Salah seorang tersangka, Raja Muhammad Raizal Raja Ibrahim ditahan polisi Diraja Malaysia setelah berupaya mencari pengobatan dari luka bakar yang dialaminya. Kepada penyidik pemuda berusia 25 tahun itu mengatakan luka bakar yang dialaminya terjadi saat pertemuan setelah ia dan adiknya, Raja Muhammad Idzham (23) meninggalkan gereja. Namun hakim menganggap kesaksian mereka tidak masuk akal.
Rev. Hermen Shastri, petugas di Dewan Gereja Malaysia, memuji keputusan pengadilan. “Vonis itu sebagai pengingat bagi semua warga Malaysia bahwa kekerasan terhadap tempat-tempat ibadah tidak akan ditoleransi,” jelas Shastri.
Beberapa tersangka juga telah ditahan terkait berbagai serangan. Serangan itu baru mereda setelah pemerintah memperketat keamanan dan mendesak warganya tidak membahayakan hubungan keramah-tamahan antara Muslim Malaysia dan etnis minoritas China dan India yang umumnya beragama Buddha, Kristen atau Hindu.
Pemicu kejadian itu berawal dari setelah The Herald, majalah milik Gereja Katolik, menentang pemerintah yang melarang penggunaan kata “Allah”. Pada persidangan 31 Desember, pengadilan mengabulkan penggunaan kata “Allah”. Beberapa umat Muslim menegaskan bahwa penggunaan kata “Allah” akan membingungkan umat Muslim. Pemerintah Malaysia mengatakan tidak bertindak bias atas keluhan etnis minoritas yang beberapa kali mengeluhkan hak-hak mereka beragama tidak dihormati pemerintah. (hariansib)


No comments:

Write a Comment

Mohon Komentar yang diberikan tidak berbau SARA dan Penghinaan. terima kasih


Top