10 Puisi Binoto Hutabalian

Profil:

Binoto H Balian,

Lahir 13 Juli 1979 di Pardomuannauli Desa Harian Pulau Samosir – Sumatera Utara. Alumni Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau.

Pecinta sekaligus penikmat seni, yang berguru dan mengadu pada waktu, pada bumi, pada langit juga pada mimpi.

Menulis sejak duduk di bangku SMA entah hingga kapan. Menulis Puisi, Cerpen, Cerbung, Opini dan Esai sastra di berbagai media seperti: Majalah Sastra Horison, Majalah Budaya Sagang, Harian Umum Riau Pos, Harian Batam Pos, Harian Riau Mandiri, Harian Global, Harian Medan Bisnis, Harian Analisa, Harian Waspada, Harian Lampung Pos dll.

Bekerja sebagai penulis dan sekaligus sebagai pekerja di Kantor Camat Pangururan, Pemkab. Samosir. Masih menggeluti kesenangan sebagai penggiat sastra di Dewan Kesenian Samosir (DKS), sekaligus sebagai Perwakilan Daerah Majalah Budaya Sagang di Samosir.

Berdomisili di Pantai Pasir Putih Desa Hutabolon – Parbaba, Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir – Sumatera Utara, Kode Pos 22392.

Kalender Tanpa Berahi

melulu, gelap terbakar
di akar-akar senja
mengasapi kaca jendela kamar
saat mulai kurumahi ranjang
sebagai pelaminan tanpa aroma kelamin

sebagaimana sesediakala
setiapkali pagi tak lagi paham angka
setiapkali tanah kuburan menyemat di matahari,
bilangan senja itu
melulu kobaran tangis serupa gerimis
yang menderas di rindang daun

meski tanpa alir sungai,
walau tanpa biduk,
pun tanpa kibar layar,
aku mesti menjalar menuju debar-debar
yang sangkut di gunduk ombak.
ke juruMu: kutub sepi yang terlupa.
yang terkeranda di atas meja kayu

menghitung lengang ini,
sama sumbangnya dengan cericit angin,
serupa menciumi berkas bayangmu,
melulu, rembulan menyusu di mataku
serta angin yang setia mengusap air mata

tapi, engkau masih melekat di bibir,
masih menarikan tari sunyi
seolah-olah ingin kau pertegas lekuk berahi ke dadaku

hingga gelap merayapi paru,
hingga sesuap cinta gagal terkunyah,
seluruh lamban-waktu
mungkin telah tuntas kuhirup,
tanpa terbayar hutang berahi
yang masih kau erami di jemari

tapi subuh masih pedas,
tapi senja masih masam,
tapi malam masih pahit
dan siang ternyata masih sesepat kemarau.

Samosir, Oktober 2008



Seikat Doa, dan Pulau Biru

secangkir kenangan

belum sempat kau tuang untuk dahagaku

saat engkau meronta lagi ke arah-kapal-hilang

salah-apa ombak, atau elang-elang putih

sehingga tak sederajat pun

kau sudi menoleh ke bekas-bekas jejakmu?

belum lagi tanda-tanda malam membintik di tenggara,

telah kau gulung senyummu

menjadi sebuah lambai

yang kau kibas dengan nada-hambar

sambil kau tarikan jurus langkah-amarah

bahkan belum sebatang rokok pun

kuresapi sore ini

ketika kita-coba berbincang menemani butir-pesisir

yang sebentar lagi

pasti berubah jadi lampu malu-malu di pelabuhan,

begitulah. pergimu

telah membekukan sekeping-sisa-lembayung,

langit sebuah-beranda

yang belum pernah berhasil menimang bola matamu.

Beginilah senja-senja sepeninggalmu,

sepenghuni pulau telah letih

merintihkan rindu-rindu-purnamanya,

tapi aku masih saja, masih tetap seorang pramusuara,

yang bagai-api

membunyikan melodi-melodi-gitar-kenangan

ke sepenjuru cuaca malam

di pub cattage-cottage

hingga ke deretan bungalo

yang-satu-satu tampak telah mulai belajar berdandan

dengan segala solekan dan bebunga-warna

pun, :

segala mitos pulau biru itu,

juga sejarah centil ombak-ombak

masih belum sukses kutukangi dengan lagu,

atau dengan ayat-ayat rindu yang terpaksa kusadaikan

di pancang-pancang-dermaga yang melumut,

namun alinea-alinea rindu untukmu

entah sampai setengah mati

pasti mesti kukuliti seteliti-hati

meski itu hanya lewat surat-surat yang belum juga beralamat

entahlah hingga kuas di jemariku ini mati lemas

saat air mata dan kaligrafi-doa-doa

kutorehkan sebagai firman-pulang bagi jejak mu

yang urung mekar dari pori-pori saujana hitam

muncullah jadi selengkung pelangi-muda

yang tersenyum di atas danau

pada sebuah perjamuan senja:

yang selalu membiru di pulau kemarau

Hutabolon-Beach, 07 Mei 08

Kibas Purnama di Pesisir Parbaba

seonggok lelaki, tertancap: di sini

mengerami percik-percik ombak

di pasir-pasir

yang malam ini, putihnya,

begitu sedapnya oleh sapuan purnama

lelaki : membaca ombak

dan mulai menghitung satu per satu

panah-panah sunyi yang kian meruncing

ter-arit angin.

dan sebakar resah memuntung di jemari

serta kepul asapnya tak sanggup

membohongi risau lelaki yang juga ngepul

pada ini purnama

tak seperti lampau-lampau,

ketika malam-madu masih

akrab kita cipta tiap tiba malam-panjang

: aroma rambut-lumutmu

yang baunya sewangi embun

telah menysisa ledakan duri, yang tikamnya

menancapi sakit ke dinding-dinding ingatan

sekeping lelaki, lentang sejajar-pasir

selalu ingin menceburi genang langit

yang menyakitkan,

sebab sendiri-ini

telah keterlaluan-sunyi, mengalahkan

sunyinya bangkai-bangkai penghuni pekuburan

setetes lelaki, teriakkan nama hingga berpetir,

mengacak-acak pasir yang juga

ialah tentang seayat sumpah

yang pernah tumpah di tepi pulau

:di genangan danau, Toba,

lelaki-retak, mengaduk-aduk puing air mata

sembari menunggumu, persis di pesisir Samosir

sebab eembun yang selalu kuwarnai dengan rindu

telah semakin jelma tembok hitam yang meninggi

Pasir Putih – Parbaba, Okt ‘08

Perempuan Penjaga Dermaga

buatmu, aku pasti sudah angin.

,sejak pernah

tuhan mengutukkan selengkung jurang-panjang

di jejak-jejak kita

hingga entah,

siapa dari kita

yang sesungguhnya duluan menguap

atau yang kemudian terpasung?

jikalah aku yang menguap,

ke pori tanah yang mana bayang-bayangmu

dulu terjepit?

pun belum siapa antara kita

yang mengaku layu

atau telah jadi batu

namun surat mantra pencarianku

biasanya hanya sanggup

kukirim pada langit, atau pada rembulan

yang tak pernah pasti kapan sempat menepi

juga sayap doa-doaku sering kukepak-kepakkan

menjelajah waktu

sampai kutemu

kemana rangkulku akan melingkar di lehermu

lalu, malaikat cengeng yang tak tahan menonton

sunyi-perempuan, kecarian pada arah jejakku

hingga aku kepergok

sedang menulis lagi tentang surat cinta

yang itu-itu juga

maka dari anginlah aku dirogoh untuk diantar

menuju pulau-galau

yang ternyata adalah persembunyianmu

kutemukan tubuhmu, kaku

mungkin sesering itu kau menungguku

masih bersama angin senja menjagai pelabuhan

sampai ujung-ujungnya kuputuskan juga

untuk menghunuskan sebilah rindu api

yang mendengus-dengus

dan yang setajam air matamu

Hutabolon Beach, Okt ‘08

Sarang Para Malaikat

: Samosir Island

sehelai langit purnama

mewarnai kunang-kunang

yang terburai

dikibas sayap keluang-pulang

di bawah semburat awan bening

yang tersobek liris-liris

angin berisi risau jangkrik, terdengar

mengarak-arak sekeping bulan perak ke tenggara

sembari menyiulkan sayatan ayat-ayat rindu

milik para malaikat perempuan

yang bergelantungan di lingkar-pelangi-malam

:para malaikat

yang pamit dari perjamuan-kayangan, turun

menyapa kunang-kunang

dan berhinggapan di atas buih reriak danau

dari celah surga, tuhan membaca malam

tuhan tertarik,

tuhan melirik

tepian Toba merendam

segerombol tubuh malaikat perempuan

sesekali tersenyum, saat ombak-ombak mungil

terbelah oleh kibas selendang-selendang kiamat

yang terus mengibarkan dedenyut waktu

tapi, hanya beberapa kokok

sebelum gerbang subuh menyala,

bahak-bahak tuhan tuntas

menguap ke rembulan perak

dan tinggal suara seribu-satu kepak

berpacu menggapai Pusuk Buhit

menyudahi ritual-ritual danau para penghuni angin

Pusuk Buhit, Januari

Terowongan Sunyi

hanya dadaku yang tau persis serasa apa sendiri

sebab senja masih terdengar merintih

saat terpaksa ia mengingatkanku

kepada bekas lambaianmu

yang berkobar dalam lembayung

serta malam yang terus meluap

memekarkan bayang-bayangmu

yang biasa kutemukan

mengenakan gincu merah muda

hanya mataku

yang paham segala

yang bergentayangan dalam kelam

saat angin ditunggangi sepi.

matahari

yang cuma bisa bungkam,

atau soal terik yang mengerumun,

juga tentang pagi

yang belum sekalipun sukses

membangunkanku telak di sisimu

hanya kakiku

yang hapal apa itu letih dan rintih

karena menunggumu,

lebih dari pendakian panjang

yang sungguh menggerus peluh

dan nada aduh

yang berembun terendam malam

serta doa-doa panggil

tak juga kunjung meledakkan jejakmu

di penghujung terowong sunyi

yang yang kau gali

hutabolon beach, okt. 2008

Semburat Mu Di Pulauku

: Pekanbaru

terakhir aku pamit, dari dekapmu

mungkin empat idul fitri lalu

bukan pergi, tapi

hanya menjenguk kampung

yang menahun merendam ingatanku dalam waktu

saat di sisimu, tahun telah penuh enam

hanya ingin merunuti jejek-jejak bocahku

tak begitu jauh,

cuma beberapa jengkal

ke utara yang dulu pernah

membesarkan sekujur ruas-ruas persendianku

meninggalkanmu:

ialah luka. seperti dadaku

yang selalu melulu di goncang rindu

tentang beduk-beduk adzan

aroma pejalan-kaki-pasar-pagi,

gadis pekerudung berhidung mancung,

juga pada asmara yang sempat berkecambah

di jembatan dekat surau-mu

serta aroma jelaga air mata yang berhembus

dari arah belukar

meninggalkanmu:

pilunya mirip pelangi kering

yang berpecahan sebelum lengkung

dari persimpangan angin ini,

masih bening bergiang,

bahkan orasi-orasi

termasuk jerit pasir pesisir

Parbaba beach, Okt, 08

Pulang

Langkahmu:

hanyalah derap-derap kaki

yang merengsek berpacu

menuju persembunyian matahari sore

satu per satu,

dan siapapun itu.

cepat

atau lambat

pasti akan saling melewati

maka buntuti jejak-jejak detik

yang membekas-lurus:

menuju sarang purnama

sebab waktu

tidak pernah menjalar seperti ular

dan tidak akan ada tawar menawar

sebab kita telah tumbuh bersama pohon,

dan akan tumbang

persis saat ada badai.

atau siapa kita yang bermimpi:

sebuah pulang yang tanpa surga?

Nainggolan – Parbaba, 08

Sebatang Rokok

malam,

tetap saja malam

mata mestinya pejam

menyelami genangan mimpi

kupilih

berbincang

dengan lengang

dan berdekapan dengan arus malam

yang semakin lengking

sebatang rokok,

sebilah pena,

sama-sama terbangun,

saling mengerling

sambil membaca jelaga

serta tinta

yang semakin mempertegas segalanya

yang pernah hilang

masih sampai detik ini

Hutabolon beach, okt’ 2008

Replika Air Mata

seseorang.

tumbuh sebagai arang

walau di siang

manapun,

awan-awan empedu melulu terpayung di kepala

berbagai langkah-gerah,

gundah,

menggeledah pori-pori tanah

seolah merogoh puing-puing surga

yang berajal-ajal

belum kunjung tertugal tangan

seseorang,

adalah bayangan-bayang,

bergetayang

lalu tumbang

oleh taring-taring siang

dia, para pendaki waktu

persis seperti kita:

yang berebut

menggerayangkan segala tengadah

kepada sebongkah angin

jelang senja

setelah

sawah telah tinggal khasidah

dan nelayan

terpaku menonton gelombang

seseorang,

terus berjalan sebagai arang.

meski malam tak lagi menghadiahkan mimpi

: patung arang yang tengah mendongak pada utara

menuju tenggara

dengan tatapan senyap

yang selalu hancur terbentur dinding terik

serta badai yang terlalu sombong menarikan tikam.

Hutabolon – Pasir Putih, Okt 08


No comments:

Write a Comment

Mohon Komentar yang diberikan tidak berbau SARA dan Penghinaan. terima kasih


Top