Kopi "Ateng" merambah Dunia

Tarutung,
Kopi varietas Sigararutang di Tapanuli Utara kini sudah mampu menembus pasar internasional, kata Kepala Dinas Pertanian Tapanuli Utara, John Harri, Rabu.
“Selain kemenyan, tanaman tersebut (kopi) menjadi primadona dan sangat diminati,” katanya.
Sementara penanggung jawab PT Sumatera Speciality Coffes (SSC) Siborong-borong, Joko, menerangkan, setiap bulan pihaknya membeli sekitar 150 ton kopi dari petani sekitar wilayah kabupaten Taput, Tobasa, Humbahas dan Simalungun.
Komoditas yang dibeli dari petani di wilayah itu diekspor ke berbagai negara melalui pelabuhan Belawan, kata penanggung jawab perusahaan yang beroperasi sejak 2000.
Dikatakannya, perusahaan Starbuck di Amerika Serikat merupakan tujuan ekspor terbesar.
Menurut dia, bahan baku ekspor itu disiapkan di Siborong-borong oleh sejumlah kelompok tani yang menjadi binaan SSC dalam wadah koperasi.
Seorang petani desa Tampahan-Tobasa, Simanjuntak, mengemukakan, dirinya merasa mendapat kemudahan dengan adanya perusahaan yang berdekatan dengan daerahnya.
Menurut dia, pihaknya tidak perlu lagi pergi jauh serta repot dalam memasarkan hasil panennya. Harga jualnya pun lebih stabil, takni berkisar Rp13.000 per kilo, katanya.
Dijelaskannya, kebun miliknya saat ini berumur empat tahun, yang berarti sudah memasuki masa produktif dan menghasilkan hingga 10 kg kopi per pohon.
“Panen pertama, dimulai saat tanamannya berumur satu setengah tahun. Sesuai namanya, hanya dengan tempo singkat, dapat membayar utang,” katanya.
Secara terpisah, Kadis Perindag Koperasi UKM Taput, Barto Manalu menambahkan, umumnya para petani menjadi kelompok binaan dan masuk anggota koperasi di daerahnya. Akan tetapi, belum ada eksportir yang berdomisili di Taput.
“Idealnya, laporan atas transaksi perdagangan dan industri yang dilakukan di daerah ini, harus terdata jelas. Sehingga, peluang dan prospek pengembangan dapat dievaluasi,” katanya.
Luas kebun kopi varietas Sigararutang mencapai 20.000 hektare, dengan produksi rata-rata sembilan ton per hektare. Komoditas itu dibudidayakan oleh hampir 9.000 lebih kepala keluarga (KK).
Tanaman rusak atau tidak menghasilkan hanya berkisar 300 hektare.


No comments:

Write a Comment

Mohon Komentar yang diberikan tidak berbau SARA dan Penghinaan. terima kasih


Top