Kisah Anak Korban Gempa Pariaman

Pariaman - Helmi (11) sedang bermain di ruang tamu bersama adiknya, sambil ditemani neneknya sore itu. Tiba-tiba rumahnya bergetar hebat. Lantai bergoyang dan segala perabotan pun berjatuhan. Neneknya histeris berteriak-teriak memanggil ibunda Helmi. Ibunya yang sedang memasak di dapur, segera menarik Helmi dan adiknya keluar rumah. Hujan pun tidak diperdulikan. Yang penting mereka tidak tertimpa bangunan.

"Waktu itu pas mau Maghrib, hujan turun, kami bertambah takut. Setelah itu, kami masuk rumah lagi, semua sudah hancur, TV jatuh dan semua isi rumah berantakan, dinding dapur roboh," kenang Helmi kepada detikcom di sela-sela Latihan Anak Siaga Penanggulangan Gempa di Desa Tungkal Selatan, Kecamatan Pariaman Utara, Kotamadya Pariaman Selatan, Kamis (15/7/2010) kemarin.

Siswa Kelas V SDN Cubudak Air Selatan, Pariaman, Sumatera Barat, ini mengisahkan bahwa malam itu mereka terpaksa bertahan di rumah mereka yang separuh rubuh. Sementara mereka berbagi makanan dengan tetangga. Malam itu menjadi malam paling menakutkan untuk Helmi. "Saat itu saya masih takut sekali, apa masih ada gempa susulan? Saya bisa nggak sekolah lagi?" ungkapnya.

Ulfani (10), teman satu sekolah Helmi, juga berbagi pengalaman yang serupa. Rumahnya juga rubuh, bahkan menimpa sang nenek yang sudah renta. Anggota keluarga yang lain ramai-ramai mengangkati dinding rubuh untuk menyelamatkan sang nenek. "Saat itu hujan petir. Semua lari ke luar rumah sambil berteriak-teriak, Allahu Akbar. Saya langsung berpegangan di batang pohon jeruk. Saat itu banyak yang menangis, apalagi nenek sudah sangat tua," kenangnya.

Helmi dan Ulfani hanyalah dua dari ribuan anak-anak korban gempa di Pariaman. Pada masa-masa awal penanganan gempa, perempuan dan anak-anak banyak menghadapi masalah penyakit dan kekurangan pangan, lingkungan yang buruk dan rawan kekerasan.

Kini, 10 bulan berlalu. Anak-anak pun telah bangkit sepenuhnya menjalani keseharian mereka. Bersekolah, bermain dan mulai bisa melupakan trauma. "Semua anak yang kena dampak bencana saat ini berhasil beraktivitas normal, penuh ceria," kata CEO Plan Internasional Nigel Chapman kepada detikcom.

Menurut Chapman, lewat program bantuan pasca bencana, mereka mendampingi 2.100 anak-anak di 21 desa di Kecamatan Pariaman Utara melalui proyek Ruang Ramah Anak (Child Friendly Space). LSM internasional ini juga membangun beberapa sekolah darurat. Hal yang sama juga diungkapkan pihak Manager World Vision Indonesia (WVI), Yacobus Runtunewe beberapa waktu lalu.

"Sebagai lembaga kemanusiaan yang berfokus kepada anak-anak, kami melihat sektor keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak dalam program tanggap darurat menjadi sangat penting," ujarnya.

WVI sendiri ikut terlibat dalam penanganan masalah pendidikan anak-anak, agar mereka tidak mengalami trauma yang berkepanjangan. Misalnya mendirikan sekolah darurat dan Mobil Sahabat Anak. "Sebab pendidikan yang terus berjalan, justru sangat berkontribusi positif dalam mengembalikan semangat anak untuk ke sekolah dan belajar," imbuhnya.

Sementara itu Kepala SDN 17 Hulu Banda, Rosmita, mengungkapkan bahwa ada ruang kelas yang roboh berantakan dan buku-buku pelajaran rusak dan hilang. Namun sejak hampir 10 bulan ini, kegiatan belajar anak-anak bisa dilanjutkan melalui sekolah darurat atau sekolah transisi.

"Meski gedung yang rusak belum diperbaiki dan belajar di ruang sementara, anak-anak tetap semangat dalam belajarnya. Nilai akademik anak-anak juga lumayan. Sekolah kami diurutan ke delapan dari seluruh sekolah di Kecamatan Pariaman Utara," katanya penuh bangga.

Rosmita mengaku, tak mudah untuk membangitkan semangat anak untuk tetap belajar. Rumah hancur, sanak saudara terluka bahkan meninggal. Situasi itu saja sudah sangat menghancurkan semangat belajar. Untuk memulihkan trauma, para guru pun mengalihkan belajar formal menjadi kegiatan memancing mereka bercerita, bermain dan jalan-jalan. Perlahan-lahan, senyum pun mulai menghiasi kembali wajah mereka.

"Memang ada sebagian anak yang mengalami trauma, susah untuk menangkap kembali pelajaran dengan mudah. Insya Allah, ini bisa semakin baik lagi kondisi mereka nantinya," jelas wanita separuh baya yang membawahi 9 guru itu.

Sejumlah LSM baik nasional maupun asing yang terlibat serius dalam penanganan
anak-anak pasca gempa ini cukup banyak di Sumatera Barat. Di antaranya Plan Internasional, World Vision Indonesia, UNDP, UN-Habitat, PADMA Indonesia, Lembaga Pelayanan Korban Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (LPKTPA) dan lainnya. Tercatat ada sekitar 50-an LSM terlibat penanganan pasca gempa di Sumatera Barat yang akan berakhir hingga bulan Agustus 2010 mendatang.

Project Manager Plan Indonesia West Sumatera Earthquake Respon, Djuneidi Saripurnawan mengatakan, hampir 89 persen anak merasa takut ketika gempa terjadi dan hanya 7 persen anak yang menyatakan tak takut. 50 Persen ketakutan ini lebih disebabkan orang tua dan saudara yang tidak ada di sekitarnya saat kejadian. Selain itu, 28 persen anak ketakutan karena tak ada tempat tinggal, 9 persen ketakutan karena gelap tiada listrik, sisanya takut gempa susulan dan tsunami.

"Setelah anak-anak bisa mendapatkan air bersih, kesehatan anak-anak semakin membaik. Hampir semua anak-anak sekarang tinggal kembali di rumah sendiri dan kerabatnya. 56 persen anak-anak kini belajar di bangunan sekolah lama, 32 persen di sekolah transisi dan 8 persen masih di tenda sekolah," pungkasnya.


No comments:

Write a Comment

Mohon Komentar yang diberikan tidak berbau SARA dan Penghinaan. terima kasih


Top